Pranata mangsa
jumat malam, 25 Juli 2008, sesudah menyantap menu favorit (ayam goreng tulang lunak) di warung makan punya sendiri (tetep bayar) saya berkesempatan ngobrol dengan pak hanto seorang budayawan lokal yang tinggalnya di baluwarti (komplek alun-alun Solo). duh maaf pak diawal saya kira Bapak itu orang aneh. apa ini tipikal budaywan yang eksentrik kali ya..?? sederhana sekali…
banyak ilmu yang tentu bermanfaat dari obrolan dengan beliau. apalagi ternyata beliau banyak pengetahuan tentang budaya jawa yang hingga saat ini masih “asing”. ngobrol kesana-kemari yang saya sendiri tidak faham tapi sebagi ampe akhirnya ketemu juga titik temunya. PRANATA MANGSA saudara-saudara.
ya istilah yang saya sempat kenal karena jasa pak Abu Yamin, dosen mata kuliah Klimatologi & Klimatologi pertanian sewaktu kuliah. pengetahuan luar biasa yang dimiliki oleh orang jawa kuno. gimana g keren coba, secara sederhan pranata mangsa itu bermakna kalender tanam. dan untuk bisa menentukan kapan tanam apa dan dimana perlu teknologi, disitulah kearifan seorang Paku Buwono VII. dalam hati berujuar hehe jujur pak saya juga yang belajar klimatologi ga terlalu familiar dengan yang namanya pranata mangsa… untunglah dari segi modern masih banyak yang nyantol dengan kalender tanam versi musim.
ini kata pak hanto : “kalo dek fikri pengen tau lebih tentang pranata mangsa, coba pergi ke alun-alun utara ya disana ada pohon beringin, cari buku babad tanah jawi disana” iseng nyeletuk : “pake bahasa jawa ya ..??” eh pak hanto bilang ya iyalah masa (ya iya dong, iniversi anak muda) pake bahasa arab!!!
hehe janjian lagi ketemu ma pak hanto makan malam bareng, asal saya sudah baca buku itu…
kenapa saya tertarik dengan pranata mangsa ..??
apa ada kaitannya dengan tugas sorang amil ..??
gini nih … saat ini kan musim agak susah ditebak, bahasa meteorologinya sih sedikit ‘bergeser’ jadwalnya
hujan lebih sering ekstrim. petani kita kan belum banyak yang tau. sedangkan di area kerja saya ini banyak petani loh..sawah-sawah terhampar dan sekarang kekeringan luar biasa, hujan juga ga karuan …
jadi inget kuliahnya pak Rizaldi Boer dengan mata kuliah Klimatologi pertanian ma Metode klimatologi. lebih baik kita pakai kalender musim terbaru. ini berarti pake ilmu statistika brow ..
ya pake info deret hari kering walau saat ini belum tentu ada kalender tanam yg cukup sesuai bwt kondisi skrg. dalam arti apakah dengan musim berubah, berarti kalender tanam jg mesti berubah?? tidak gitu juga seh … perlu disesuaikan lagi antara kalender musim yang ada… dan termasuk juga pranata mangsa…jadi bisa dinilai apa kalender tanam yang ada saat ini (termasuk pranata mangsa) masih sesuai dengan kondisi saat ini ..??
dalam bertani faktor alam ini sangat sulit diprediksi..semoga para petani kita tidak terus tertindas… kembalikan Indonesia swasembada pangan (beras)..perkuat seluruh lini…
trims pak Hanan, karena obrolan tersebut saya jadi kebuka tentang pranata mangsa…
ini hasil pencarian sederhana di internet :
Pranata mangsa merupakan perhitungan waktu berdasarkan kejadian-kejadian alam seperti musim penghujan, kemarau, letak bintang, pengaruh bulan purnama, dan lain-lain. Biasanya pranata mangsa dijadikan patokan untuk melakukan suatu kegiatan.
Musim yang berlaku di Jawa menurut pemahaman pranata mangsa ini dibagi menjadi 4 musim utama yaitu: musim hujan atau dalam bahasa Jawa disebut rendeng, musim pancaroba atau mareng, musim kemarau atau ketiga dan musim menjelang hujan atau labuh.
Ke 4 musim di atas dibagi-bagi lagi menjadi 12 musim yang rentang waktunya lebih singkat yaitu (dalam bahasa Jawa): Mangsa koso atau mangsa kartiko ; Mangsa karo atau mangsa puso ;Mangsa katelu ;Mangsa kapat ;Mangsa kalimo ;Mangsa kanem ;Mangsa kapitu ;Mangsa kawolu ;Mangsa kasongo ;Mangsa kasepuluh ;Mangsa desto ;Mangsa sodo
insyaAllah, saya cari yang lebih detail tentunya seudah bisa nemu buku yang dimaksud pak hanti dan selese nerjemahinnya
tentang visi
Senin kemarin 28 Juli 2008, dapat kesempatan untuk ikut Seminar Powerhouse di The Sunan Hotel Solo. Pembicaranya ya tentu Pak Rhenald Kasali yang ditemani om farhan. tapi disini saya hanya pengen menulis tentang visi.
tak ada jalan pintas untuk jadi Luar biasa (Kaya)!!! perlu keberanian dan proses!! saat diawal terasa sulit, itulah peluang kita jika memang kita pengen jadi luar biasa (kaya). mulailah bangun visi yang dengan proses dan perjalannya akan mendorong kita jadi pemimpin yang hebat. So untuk mempersiapkan masa depan tersebut kata Rhenald Kasali Perfecting the Present and preserving the past.
dengan kata lain kita ibaratnya harus jadi seorang Kapten. yang tau harus kemana dia mengarahkan Kapal (pesawat) dan mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapai cita-citanya. banyak tuntutan agar visi dan motivasi sejalan. perhatikan alignment vertikal dan alignment horisontal.
visi yang hebat, motivasi yang kuat serta pergaulan yang luas akan menjadi kita sesosok manusia alpha yang kompetitif&fokus; result drivent; agresif, hard work&doiminant; pemberani, PD&inovatif; sense of mission; serta tentunya charismatic … (tapi pak rhenald saya mau nambahin yakinlah pada keMaha Kuasaan dan KeMaha Kehendaknya Allah).
ayo lakukan perubahan!!!!!!!!!!! terobos dan teruskan
ya Rabbi … kuatkan visi hamba-Mu ini,
teguhkan tekad ini
semua kembali pada-Mu …
Membangun Izzah dengan Gemar Berinfaq
Hari Jum’at (7/12/07) )itu seperti biasa saya melaksanakan shalat jumat di Masjid Al-Azhar Solo Baru. Entah kenapa sekejap saya ingin sekali memperhatikan perjalanan kotak infaq yang beredar di hadapan jamaah jumat. Saya perhatikan sebagian besar jemaah yang berada satu shaf dengan saya memasukan infaq. Begitu juga dengan salah seorang yang terlihat sepintas seperti “dhuafa” kalau saya tidak lihat beliau memasukan uang ribuan. Pasca Shalat Jumat saya menghampiri bapak yang tadi memasukan infaq. Obrolan singkat penuh ibrah pun terjalin.
Yang menjadi ibrah adalah bukan seberapa besar jumlah uang infaq yang dikeluarkan, tetapi keikhlasannya untuk untuk berinfaq. Setau saya Dhuafa tersebut mempunyai penghasilan sekitar dua ratus ribu perbulan, dan tentu walau seribu rupiah itu akan sangat berarti untuknya bertahan hidup ditengah semakin besarnya biaya kebutuhan sehari-hari. Subhanallah Qanaahnya beliau yang diikuti kegemaran berinfaq menjadikan rizkinya terus mengalir. Rasanya masih saja terus terngiang obrolan dengannya “Mas Fikri memang saya perbulan apabila dirata-rata hanya mendapat Rp. 200.000 tapi saya tetap bersyukur dan qanaah dengan apa yang saya terima atas apa yang telah saya lakukan, karena rezki hanya Allah yang mengatur. Alhamdulillah meskipun begitu saya tidak mau meminta-minta kepada orang lain, saya lebih senang mengumpulkan plastik-plastik bekas air mineral, kertas-kertas dan kardus yang tidak terpakai, alhamdulillah dari aktifitas tersebut saya bisa dapat sepuluh ribu perbulan, itu sangat cukup untuk sangu anak saya yang sekarang kelas 1. secara sederhana eoalh bapak berputra lima ini ingin mengatakan “Prinsip kami adalah : kami mau Makan dari apa yang kami tanam dan berpakaian dari apa yang kami buat”, menarik untuk diteladani, jika prinsip ini sudah kita pegang, jalan menuju kemandirian terbuka lebar. Diakhir obrolan bapak ini menyampaikan “Mas saya yakin dari setiap rupiah yang saya infakkan walau sedikit niscaya Allah akan melipatgandakan” sehingga saya mencoba untuk selalu berinfaq tatkala shalat jumat.
Ada juga ibrah dari seorang bapak yang datang ke kantor 3 bulan belakangan ini. ”mas, saya ingin jadi donatur Rutin Al-Azhar, Tapi Maaf jumlah donasi saya tidak bisa banyak” ungkapnya lirih. Perasaan haru menyeruak di dada ini tatkala ada semakin bertambah masyarakat yang yang bersedia menjadi donatur rutin kami. Memang Sepintas apabila diselidik tidak akan besar donasi yang beliau berikan karena memang penghasilan yang dia peroleh dari pekerjaannya hanya cukup untuk makan dia sebulan, tapi keinginannya untuk membantu sesama membuatnya beritikad untuk selalu datang ke kantor setiap awal bulan untuk menyerahkan uang sepuluh ribu yang tentu baginya sangat besar. Bahkan tatkala musibah banjir melanda kawasan solo raya, beliau menambah infaknya 3x lipat. Subhanallah.
Memberi di saat berlebih adalah hal mudah, meski tidak semua orang biasa melakukannya. Tetapi memberi di saat kita membutuhkan, hanyalah orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah di surga kelak yang sanggup melakukannya. Butuh perjuangan, keikhlasan dan kesabaran untuk mampu membiasakan mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki. Tentu saja kita bisa, jika kita mau. “… barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia berbuat kebaikan…” (QS. Al-Kahfi:110)
Sabda Rasulullah SAW : “tangan diatas (pemberi) Izzah (harga diri) seperti itulah yang harus dimiliki oleh seluruh umat islam.
sekarang, posisi tangan anda itu dibawah (meminta-minta) atau diatas (rajin bersedekahdan berinfaq) …??? semua tergantung anda..
dari percik newsletter CARE, edisi 1, Januari 2008
nyambut gawe
sabtu, 19 Juli 2008… praktek analisis sosial ke desa Karang mojo, Kecamatan Weru, Sukoharjo. ya praktek ini merupakan salah satu rangkaian acara training analisis sosial untuk relawan pendidikan terkait dengan program konseling dan pengembangan Potensi Anak (KP2A) yang akan dilaksanakan oleh Al-Azhar Peduli Ummat Solo Baru per agustus 2008.
hari itu ketemu dengan sepasang orang tua yang mengenalkan diri dengan nama Mbah prapto. usianya sekitar 84an tahun. pernah mendapat pengahargaan sebagi ketua RW teladan se kecamatan Weru karena selama 1 dekade menjadi seorang ketua RT!! sebuah pengabdian yang luar biasa.
saat itu mba prapto dan istrinya sedang memotong singkong untuk ditumbuk jadi tiwul, yang nantinya akan mereka jadi kan sebagai santapan makan mereka atau dijual dan lagi-lagi agar bisa makan. ya jangan dulu berfikir mereka selalu makan enak dengan nasi berikut lauknya yang terhidang indah di meja makan. untuk mendapatkan 10 kg singkong kedua mbah tersebut harus berjalan kaki sejauh 3 km ke sebuah bukit (maaf saya tidak tau nama bukitnya, karena beliau hanya bisa mengatakan hal tersebut).
subhanallah …
diusianya yang sudah “renta” tersebut, masih tertanam jiwa kemandirian untuk bisa bertahan hidup. sementara sebagian anak-cucunya merantau ke solo dan Jakarta untuk mengubah nasib. “selama masih punya kekuatan kenapa kita harus berpangku tangan dan menunggu belas kasih orang lain …?? karena saya bisa hidup kok, walo cuma seadanya” (aslinya bahasa jawa, tapi karena belum terlalu faham diterjemah bebaskan deh … hehehe)
Mbah prapto memberikan spirit tambahan dan suri tauladan…ditengah kondisi yang serba penuh dengan konflik, kemandirian merupakan suatu cara untuk bisa bertahan.
kita mungkin ingat dengan 3M yang dikatakan oleh Aa Gym
1. Mulai dari hal yang kecil
2. Mulai dari diri sendiri
3. Mulai sekarang Juga
kita bisa mulai mandiri. manfaatkan potensi alam yang masih melimpah, kerjakan hal baik untuk diri kita dan orang lain yang bisa dikerjakan oleh diri kita sendiri tanpa menyuruh dan memeinta orang lain mengerjakannya, dan ayo sekarang JUGA berbuat. mengambil iklan pak Soetrisno Bachir : HIDUP ADALAH PERBUATAN!!!
perbuatan yang harus segera dilakukan kita adalah nyambut gawe… sehingga tidak ada lagi pemuda yang menjadi pengangguran. tapi ingat yang halal loh …
malu kah kita ke mbah prapto ..??
wallahu a’lam
-
Archives
- November 2008 (15)
- October 2008 (6)
- September 2008 (9)
- August 2008 (5)
- July 2008 (26)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
