adefikri’s Weblog

run for social entrepreneur….

menatap masa depan

 

Inggris, 1940. Negara-negara di Eropa sedang dilanda peperangan dengan Jerman. Pesawat-pesawat Nazi menyerbu Inggris, mengebom gedung-gedung pemerintahan, jembatan, gereja, juga sekolah-sekolah.

Ketika pesawat Nazi mulai mengebom kota London, di sebuah universitas tengah berlangsung sebuah perkuliahan. Tak ayal, kampus itu pun menjadi sasaran tembak. Ruang-ruang kelas hancur seketika, sementara beberapa bagian gedung lain roboh menimpa para mahasiswa.

Namun sang dosen, seorang profesor berusia lanjut, masih bisa bangkit berdiri. “Apakah semuanya baik-baik saja?” tanyanya sambil membersihkan debu yang menempel di bajunya. “Kalau begitu, mari kita lanjutkan kuliah kita. Kita masih punya jam pelajaran 15 menit tersisa.”

Para mahasiswa saling berpandangan dengan heran. Bagaimana mungkin ketika kita baru saja dibom oleh musuh, kita masih meneruskan kuliah ini? Ruang kuliah telah hancur berantakan. Bahkan pesawat pembom itu bisa saja datang lagi. Apa profesor ini sudah gila?

Namun seolah memahami pikiran para mahasiswanya, si profesor dengan tenang menjawab, “Tujuan musuh menyerang dan menghancurkan kampus kita adalah untuk menghancurkan peradaban bangsa Inggris. Oleh karena itu kita harus berusaha untuk membangun peradaban kita lagi, menjadi jauh lebih besar lagi. Musuh boleh menghancurkan kampus kita, tetapi mereka tidak boleh menghancurkan semangat kita untuk bangkit lagi.”

* * *

Kisah di atas memang terjadi puluhan tahun lalu di negeri yang nun jauh di sana, namun menjadi relevan pada masa sekarang ini. Di tengah krisis ekonomi yang menghimpit, korupsi yang merajalela, kenaikan harga BBM, ditambah dengan bencana yang sering melanda negeri ini, rasanya kita seperti sedang dihujani ratusan bom yang siap meledak kapan saja.

Namun sampai kapan pun nilai-nilai yang bisa kita ambil dari cerita itu akan tetap sama: tentang bagaimana kita harus tetap bangkit dari himpitan sekian banyak permasalahan dan bencana. Karena hanya orang-orang yang bisa menatap masa depan –dan berusaha bangkit—yang bisa meraihnya. Tidak usah menunggu datangnya tokoh-tokoh yang akan membawa kita keluar dari krisis ini, karena kita-lah tokoh-tokoh perubahan itu. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah nasib mereka sendiri.

sekarang …
bahwa masa depan yang lebih baik bukanlah sekedar mimpi.
bahwa perubahan itu ada di tangan kita.
bahwa bersama kita bisa mewujudkan masa depan yang lebih baik

bukan hanya sekadar jargon

Wallahu a’lam.

July 3, 2008 - Posted by ade fikri | syiar Newsletter CARE | | No Comments Yet

No comments yet.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.