adefikri’s Weblog

run for social entrepreneur….

gemilang zakat

ini syair dari jingle yang dipake Al-Ahar Peduli Ummat  Solo Baru di Ramadhan 1429 H.

GEMILANG ZAKAT

Karya : Adi Kitana & Pandan P. Purwachandra

Tahukah kau manusia terbaik

Yang selalu memberi manfaat

Tumbuhkan asa dan harapan

Semaikan cinta sejati

Zakat sarat manfaat

Zakat bukti cinta sejati

Gemilang zakat membangun umat

Gemilang zakat gemilang ummat

terus berikhtiar membangun kembali peradaban ummat Islam dari dana Zakat, Infaq, Seekah, Wakaf dan dana sosial lainnya. Berani bermimpi …??? semoga… Allah Maha Berkehendak!!!

August 28, 2008 Posted by ade fikri | catatan perjalanan | | 1 Comment

karena perubahan ada di tangan kita …

Perubahan sosial di masyarakat tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Apalagi bila perubahan itu bertujuan mengubah kehidupan dan kesejahteraan masyarakat agar menjadi lebih baik. Masyarakat itu sendiri-lah yang mestinya menentukan dan berusaha mengubah kehidupannya.

Namun juga diperlukan orang-orang yang secara sadar dan ikhlas mengorbankan tenaga, pikiran dan waktunya untuk membantu mewujudkan perubahan itu, atau palingtidak memotivasi dan membimbing mereka. Hal ini disadari betul oleh Al-Azhar Peduli Ummat. Sebagai lembaga zakat yang bergerak di bidang sosial, keberadaan orang-orang yang seperti itu mutlak diperlukan sebagai ujung tombak dari program-program sosial Al-Azhar Peduli Ummat.

Untuk itu, Sabtu-Minggu (18-19/7) lalu Al-Azhar Peduli Ummat mengadakan training bagi Relawan Pendidikan di kompleks Al-Azhar 28 Solo Baru. Dalam acara ini belasan peserta mendapat materi Analisis Sosial dari tim Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Mustadh’afin (Peramu) Bogor.

Menurut Aziz, fasilitator masyarakat senior Peramu, materi analisis sosial dibutuhkan untuk lebih mengenali kondisi sosial budaya masyarakat setempat, sehingga kebutuhan masyarakat bisa terpetakan. Hasilnya, program-program yang akan dilakukan bisa diterapkan dengan efektif. “Sekarang ini kita tidak hanya mencari orang yang soleh secara individu, tetapi juga soleh secara sosial,” katanya.

Selain materi analisis sosial, peserta juga mendapatkan materi tentang pengenalan diri sendiri. Tujuannya untuk mengetahui apa tujuan hidup dari masing-masing calon relawan. Di akhir acara, para calon relawan belajar praktek ansos dengan terjun langsung ke lapangan.

Menurut Nanang, salah satu peserta, “Materinya sudah cukup baik. Kalau teman-teman masih pada bingung ya itu wajar, tinggal nanti follow up-nya kalau bisa lebih detail dan teknis”. Hal senada diungkapkan Doni, peserta lain. “Kegiatan ini benar-benar dibutuhkan oleh teman-teman yang akan berkecimpung dalam dunia ini,” katanya.

Menurut Manager Al-Azhar Peduli Ummat Fikri Muhammad, training untuk calon relawan ini tidak akan berhenti sampai di sini. “Besok-besok kami masih akan mengadakan training lagi, karena relawan-relawan inilah yang akan menjadi ujung tombak dari setiap program yang dijalankan sebagi wujud penunaian amanah dari masyarakat,” kata Fikri.

Fikri menambahkan, untuk menjalankan program ini LAZ Al-Azhar hanya bermodal tekad kuat saja, karena yakin anda para muhsinin akan selalu peduli yang akan turut berpartisipasi dan tentunya Kuasa Allah yang Maha Kaya. Nah, tunggu apa lagi? Segera salurkan Zakat serta Infaq shadaqah Anda ke Al-Azhar Peduli Ummat.

August 8, 2008 Posted by ade fikri | Liputan Program | | No Comments Yet

demi mimpi – mimpi itu …


… Betapa pedihnya hati Lintang. Keinginannya untuk terus bersekolah, menuntut ilmu, dan belajar bersama-sama lagi dengan teman-temannya harus ia kubur dalam-dalam. Pengorbanannya menempuh perjalanan 80 km pulang pergi ke sekolah setiap harinya seolah menjadi tak berarti apa-apa. Anak jenius berambut ikal merah ini terpaksa menerima kenyataan pahit: dirinya harus bekerja demi menghidupi keluarganya.

Dan peristiwa ini membuat perubahan besar dalam diri Ikal. Pikirannya berkecamuk dengan berbagai pertanyaan. Kenapa Allah memberikan cobaan ini? Dan kenapa harus Lintang? Rasa sakit di hatinya seolah tak tertahankan lagi oleh dendam yang membara: aku benci anak orang-orang kaya itu, yang punya kesempatan untuk menuntut ilmu tapi mereka malah menyia-nyiakannya. Dan Ikal semakin terpukul karena dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatnya.

Itulah salah satu fragmen dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Lintang, anak petani miskin yang dikaruniai otak cemerlang luar biasa, terpaksa keluar dari sekolah karena mesti bekerja menggantikan ayahnya yang meninggal dunia. Andrea, alias Ikal, kemudian menuntut ilmu mati-matian sampai ke Sorbonne, Perancis, demi ‘membalaskan dendam’ Lintang yang cuma menjadi seorang kuli timah.

Dan kisah semacam itu tidak hanya terjadi dalam novel. Ribuan bahkan mungkin ratusan ribu anak di Indonesia terancam putus sekolah tiap tahunnya. Bukan karena mereka bodoh, tetapi karena mereka tidak punya biaya untuk meneruskan sekolah. Hal ini diperparah dengan rendahnya kesadaran orangtua untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya, juga pemerintah tidak sepenuhnya bisa memenuhi kewajibannya untuk ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’.

Masyarakat kita tak jarang beranggapan, ‘ah, yang penting sudah bisa baca tulis’. ‘Daripada menghabis-habiskan uang, mending membantu kerja di sawah’. Atau ‘ngapain sekolah tinggi-tinggi, toh besok kamu cuma kerja di dapur’. Padahal anak biasanya memiliki cita-cita tinggi menjadi dokter, pilot, atau presiden. Betapa sakitnya mereka ketika mimpi-mimpi mereka menemui kenyataan pahit bahwa mereka hanya akan menjadi kuli.

Itulah yang mendasari dicetuskannya Program Konseling dan Pengemangan Potensi Anak (KP2A), ya sebuah program Pendampingan terhadap anak-anak usia SD/MI dan SMP oleh Al-Azhar Peduli Ummat. Pada periode pertama (Agustus 2008 – Juni 2009), insyaAllah 100 anak di Sukoharjo & Solo akan mendapatkan pendampingan. “Pendampingan dilakukan oleh relawan-relawan pendidikan dari Al-Azhar Peduli Ummat, dengan komposisi 2-3 relawan mendampingi 10-15 anak dari satu sekolah,” kata Manager Al-Azhar Peduli Ummat Fikri Muhammad. Adapun mulai pendampingannya per minggu kedua Agustus 2008 setelah selama bulan Juli s.d minggu pertama Agustus ini memilih anak-anak yang berlokasi di Solo (Kadipiro, Kentingan, semanggi) & sukoharjo : (Waringinrejo, Kadokan, dan Gonilan).

Lewat pendampingan ini, anak-anak akan mendapatkan berbagai macam materi, mulai dari belajar bersama, permainan edukatif, konseling, sampai outbond. Pendampingan dilakukan setiap satu minggu sekali di tempat-tempat yang berbeda.

Kenapa Al-Azhar Peduli Ummat meluncurkan program ini? “Karena siapa tahu di antara anak-anak yang kurang mampu itu ada calon-calon pemimpin bangsa yang akan membawa kita keluar dari krisis ini. Karena siapa tahu di antara mereka ada Hamka-Hamka baru dan Natsir-Natsir baru yang akan membawa kita meraih kejayaan,” tegas Fikri. Dengan program ini diharapkan anak-anak itu tidak kehilangan motivasi untuk terus belajar meski dilanda kekurangan.

Mungkin cita-cita kami ini terkesan muluk-muluk. Namun, bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Kami juga membutuhkan partisipasi dari donatur sekalian, baik untuk pelaksanaan program ini maupun untuk membantu mereka melanjutkan sekolahnya. Karena menurut kami, kita tidak boleh pesimis dan menyerah sebelum melakukan usaha ataupun perubahan. Tak ada orang yang selamanya miskin asalkan ada kemauan dari orang itu, juga uluran tangan dari saudara-saudaranya. Seperti yang dikatakan Andrea Hirata dalam novel Sang Pemimpi:

“Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!! Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…Mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli, tapi di sini Kal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita!!”

August 8, 2008 Posted by ade fikri | Liputan Program | | 1 Comment

sekolah guru madrasah (2)

Bersama-sama mencetak Natsir-Natsir baru

17 Juli 2008 lalu adalah peringatan 100 tahun Muhammad Natsir. Siapa tak kenal dengan Muhammad Natsir (allahu yarham). Perdana Menteri RI pertama tahun 1950-1951 ini adalah seorang pemikir, dai, sekaligus pendidik Islam terkemuka. Ia dikenal sebagai tokoh, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam.

Dunia Islam sudah mengakuinya sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Beberapa Negara memberikan penghargaan kepada Natsir atas kontribusinya bagi dunia Islam. Sebagai pendidik, kecintaan Natsir pada pendidikan terbukti dari upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Menurut Mensos Bachtiar Chamsah, tulisan-tulisan Natsir menyentuh hati orang yang membacanya. Hingga menjelang akhir hayatnya, 6 Februari 1993, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

Sayangnya, di tengah kondisi bangsa yang seperti ini, semakin jarang ditemui tokoh ataupun generasi muda yang seperti Natsir. Untuk itu, dengan mengusung kekaguman dan kecintaan terhadap sosok Muhammad Natsir, Al-Azhar Peduli Ummat meluncurkan program Sekolah Guru Madrasah (SGM).

Tanggal 8 dan 23 Juli 2008 lalu, di aula Gedung Al-Azhar 28 Solo Baru diadakan ujian tertulis bagi para peserta program SGM. Sekitar 45 guru MI calon peserta tampak serius mengerjakan soal ujian tertulis ini. Ujian ini adalah seleksi kedua bagi para peserta setelah seleksi administrasi.

Menurut Manager Al-Azhar Peduli Ummat Fikri Muhammad, program Sekolah Guru Madrasah (SGM) ini merupakan proyek besar jangka panjang. “Selama ini guru dan lulusan madrasah seringkali dipandang sebelah mata. Padahal di sini-lah tempat yang tepat untuk menuntut ilmu sekaligus belajar agama. Semoga lewat program ini kita bisa menghasilkan Natsir-Natsir baru dan pencetak Natsir-natsir masa depan yang dibutuhkan bangsa ini,” kata Fikri.

Pada ujian ini, peserta diminta untuk memikirkan tentang proyeksi mereka terhadap MI tempat mereka mengabdi, 3, 5 bahkan 10 tahun lagi akan seperti apa. Peserta juga diminta untuk menuliskan komitmen dan tekad diri masing-masing, keadaan MI masing-masing sampai pada nilai nominal honorarium yang mereka peroleh.

Peserta yang lolos tes tertulis ini merupakan 11 peserta dengan nilai ujian tertulis terendah serta 11 lagi perpaduan antara peraih nilai tertinggi dan representasi persebaran MI di sukoharjo. Setelah ujian tulis ditempuh, peserta masih harus berhadapan dengan ujian outbond dan wawancara. Hal ini sebagai sarana menggali potensi diri yang tersembunyi dari masing-masing peserta.

Donatur yang budiman, Tak mudah memang untuk melahirkan sosok Natsir baru. Dengan program SGM ini semoga guru-guru madrasah bisa menjadi seperti Natsir, bahkan bisa juga melahirkan Natsir-Natsir baru. Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Memang masih banyak proses yang harus dilewati. Dan mulai Tanggal 3 Agustus 2008 samapi satu tahun kedepan seluruh peserta yang dinyatakan lulus harus datang ke Aula komplek Al-Azhar 28 untuk mengikuti program setiap minggunya.

Nah…Walau tidak secara intens membantu, tetapi pancingan dari anda berupa infaq untuk mendukung program akan sangat berarti. Membantu pelaksanaan program ini berarti turut berikhtiar mempercepat kemajuan bangsa. Sebuah harapan yang tentunya tidak akan berjalan tanpa uluran tangan anda sekalian. Anda berminat membantu? Silakan hubungi Al-Azhar Peduli Ummat.

August 1, 2008 Posted by ade fikri | Liputan Program | | No Comments Yet