silaturahim dan sahabat lama
subhanallah, dibalik kejadian selalu ada hikmahnya.
(A) alhamdulillah ditengah kesibukan sebagai amil di bulan Ramadhan ini, saya dapat keluarga baru. Mbah Parto. Ya hari Sabtu, tanggal 20 September lalu saya menginap dirumah beliau. ditemani oleh mbah putri. yA mereka berdua tampakmesra dan saling dukung di usia senja. walo jujur dari obrolan sama sekali ga nyambung (beliau pake bahasa halus banget, padahal kemampuan bahasa jawa saya masih pas-pasan) tapi dibalik itu ada kehangatan yang kami rasakan. Ya.. Mbah Parto yang ditingggal merantau oleh anak dan cucunya ke Jakarta, sedangkan saya merantau ke Sukoharjo tanpa ada sanak family sama sekali. jadi cocok kan …???
yang menjadi bahagia, adalah mendengar beliau menangis karena sewaktu saya pamitan, beliau sedang tidur. dan saya harus terburu-buru dan hanya pmitan sama mbah putri… subhanallah..
dan setelah itu banyak telpon masuk dari orang-orang terdekat.
(B) hari ini (23 September) saya nelpon ortu karena mo izin tidak bisa shalat Ied bersama-sama (ini tahun ke 3) tapi …entah kenapa ortu bilang pasrah sumerah keada Allah SWT, karena dialah yang Maha Mengatur Rizki, jodoh dan Mati kita. jangan terlalu berlebihan!!! yach dikala letih mendera telpon ortu ini menjadi pemicu semangat
(C) hari ini pula tersambung dengan sahabat lama (Taufik Risman). dulu sewaktu SMP & SMA, kalo ramadhan mesti nginep dirumahnya 1-2 hari. dan Subhanallah dia bercerita perubahan besar terjadi padanya, dan kunci dari perubahan pada dirinya adalah silaturahim yang sering dia lakukan dengan orang-orang baik…
subhanallah, silatirahim bisa saling menguatkan.
sayup..sayup terdengar sepenggal lirik nasyid dari IZZIS …
BANGUNLAH SAHABAT MULIA …
BERPISAH BUKAN AKHIR SEGALANYA
Menyikapi Ujian dengan Kesabaran
Oleh K.H. Abdullah Gymnastiar
Saudaraku, semoga Allah SWT yang menguasai tubuh kita memberikan karunia kesehatan lahir dan batin. Bersabar ketika diuji sakit dan bersyukur ketika dikarunia sehat. Karena adakalanya seseorang yang diuji sakit terhina karena ketidaksabarannya dan dikala sehat terhina karena ketidaksyukurannya.
Sabar adalah kegigihan kita untuk berada di jalan yang Allah sukai. Sabar ketika sedang diuji sakit, misalnya. Kesabaran seseorang akan tampak dari akhlaq dalam menyikapinya. Tidak jarang orang sakit bicaranya tidak karuan, penuh dengan keluh kesah, emosi. Sungguh sangatlah merugi bagi seseorang yang ketika diuji sakit disikapi dengan emosi. Tetap saja tidak akan menjadikannya sembuh. Lalu bagaimana sikap sabar kita dalam menghadapinya?
Ada beberapa sikap sabar yang bisa kita latih disaat kita diuji sakit. Pertama, sikap berprasangka baik kepada Allah. Diawali dengan menyadari sepenuhnya bahwa tubuh ini bukan milik kita melainkan milik Allah. Mau dijadikan sehat, sakit, itu hak Dia. Walaupun berobat ke dokter, tetap saja semuanya ada dalam genggaman-Nya. Dan kita patut menyadari bahwa setiap sakit yang kita derita pada hakekatnya sudah diukur Allah. Maka biasakanlah untuk mengucapkan, “Inna ilaihi raaji’uun.” Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah tempat kita kembali.
Sikap sadar tersebut akan berbuah keyakinan. Yakin bahwa Allah tidak akan menimpakan suatu penyakit pada kita bila tidak ada hikmahnya. Sehingga kita terpanggil untuk mengintospeksi diri. Mungkin saja sakit yang kita derita karena tidak terpenuhinya anggota tubuh kita akibat dari kelalaian. Seperti memforsir pikiran sehingga kepala menjadi pusing, mengabaikan hak perut sehingga perut menjadi sakit, tidak menyempatkan olahraga sehingga tubuh mudah lemah, dan kelalaian dalam memenuhi hak anggota tubuh lainnya.
Sikap sabar yang kedua yang harus dikuasai yaitu sikap menerima ketentuan Allah. Tidak berkeluh kesah. Keluh kesah adalah tanda-tanda dari ketidaksabaran. Biasanya orang sakit menderita itu bukan karena sakitnya melainkan karena dramatisasinya. Dan itu juga karena kurang bisa menerima ketentuan Allah dan terdorong keinginan untuk dikasihani sehingga orang-orang berempati kepadanya. Oleh karena itu, betapapun parahnya penyakit kita, cobalah untuk memproporsionalkannya.
Sikap ketiga, dengan merenungkan hikmah sakit. Selain sebagai sarana, mengintrospekasi diri juga sebagai pengugur dosa, seperti gugurnya daun dari pepohonan.
Saudaraku, sesungguhnya hidup sukses, mudah mendapatkan pertolongan Allah, dan kemampuan untuk dekat dengan-Nya, hanya dimiliki oleh orang-orang sabar. Untuk itu, jadikanlah sabar sebagai penolong kita seperti halnya shalat yang kita kerjakan. (*)
Copyright © CyberMQ.com
diambil dari : http://www.antara.co.id/mq/2007/3/27/menyikapi-ujian-dengan-kesabaran/
Menjadi Orang yang Berani
Oleh K.H. Abdullah Gymnastiar
Keberanian yang sesungguhnya adalah ketika seseorang berani melihat kekurangan dirinya. Orang yang berani inilah yang akan selamat, beruntung karena mempunyai semangat menggebu untuk memperbaiki dirinya.
Untuk bisa memperbaiki diri, seseorang harus tahu dahulu apa yang harus ia perbaiki. Dan, untuk mengetahui apa yang harus diperbaiki, kita harus berani melihat kekurangan diri.
Agar kita bisa melihat kekurangan diri, memang membutuhkan latihan serius. Salah satu caranya adalah berani menerima koreksi, masukkan dari orang lain untuk dirinya.
Orang seperti ini akan bergerak cepat, maju karena kian hari ia semakin meningkatkan diri. Dengan beragam koreksi yang ia terima menjadikan ia semakin gigih berupaya lebih baik, tidak seperti yang dikritikan kepadanya.
Sedang orang yang tidak suka jika dirinya dikritik orang lain, ia cendrung akan menghindar. Jika ada masalah yang sepertinya akan menyerang dirinya, ia akan sibuk mencari kambing hitam, melempar kesalahan kepada orang lain.
Ia sangat takut jika dirinya yang harus bertanggungjawab. Sekuat tenaga dia akan membela diri, bahwa bukan ia yang harus mempertanggungjawabkan semuanya.
Tentu, sikap takut disalahkan seperti ini sangat tidak baik.
Orang seperti ini adalah orang yang pengecut. Oleh karena itu, evaluasi kesibukan kita dalam membela diri.
Apakah kita harus membela diri atau kita membela diri karena takut ketahuan? Kita harus berani mengakui dan bertangungjawab jika memang kita yang salah. Tidak perlu membela diri, karena dengan membela diri justru akan memperjelas kesalahan kita.
Selain itu, kita juga harus berterima kasih kepada orang-orang yang telah memberikan masukan, saran kepada kita. Memang naluri manusia lebih menyukai pujian dan penghargaan.
Tetapi, sebenarnya kita tidak akan jatuh karena kritikan orang kepada kita. Justru koreksi adalah salahsatu jalan agar kita menjadi lebih baik dari saat ini, walau bisa jadi pada awalnya terasa pahit.
Kalau pun ternyata koreksian itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, kita tidak perlu sedih. Segera perbaiki diri dan buktikan bahwa kita tidak seperti yang dituduhkan orang-orang. (*)
Copyright © CyberMQ.com
diambil dari : http://www.antara.co.id/mq/2007/3/14/menjadi-orang-yang-berani/
Edisi Belajar Bagi Zakat
yach masih dalam suasana duka. eit ini bukan masalah pribadi. ini tentang tragedi bagi zakat di pasuruan yang menewaskan 21 jiwa pada Senin 15 September kemarin, banyak yang menilai kejadian tersebut sebagai potret nyata kemiskinan di Indonesia. Dimana, ribuan massa selalu terlibat ketika acara pemberian bantuan digelar.
sang dermawan Bapak Syaikon Fikri, sungguh tidak akan menyangka niat mulainya berujung pada adanya kematian warga yang antri nerima zakat. dari sini kita harus kembali mengingat bahwa Al Qur’an sangat menghargai dermawan yang menyampaikan dermanya secara terang-terangan (QS Al Baqarah: 271). Tapi di ayat yang sama disebutkan, lebih baik lagi yang berderma secara diam-diam. Sebagaimana kata Nabi Muhammad SAW, “Janganlah engkau bersedekah di hadapan khalayak karena bermaksud mencari pujian dari manusia. Bersedekahlah hingga tangan kananmu yang memberi maka tangan kirimu tak mengetahuinya.’’
sudahlah saya tidak mau ikut debat kusir tentang siapa yang salah. Jujur Hati dan mata ini ngeri melihat kejadian tersebut terlebih apabila kelak terjadi di berbagai tempat. Bagi saya ini merupakan tantangan buat seorang Amil Zakat untuk mengelola dana ZIS lebih profesional dan Akuntabel,
ya saya dan tim harus kerja lebih keras dan lebih cerdas karena harus menjamin titipan zakat atau sedekah dari masyarakat agar sampai kepada yang berhak, terutama yang menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta sebagaimana disebut dalam Surah Al Baqarah 273. dengan kata lain yang harus diupayakan adalah menjaga kemulian dan “harga” diri para dhuafa.
Jadi ingat sewaktu training Zakat Executive Development Program, Pak Eri Sudewo menagatakan : Kalian berusaha mengedukasi masyarakat terutama para agniya agar menghindari “Pameran Kebajikan”. karena hal tersebut sesungguhnya tidak membuat masalah akan selesai. kebiasaan jelek yang sudah ada di masyarakat jangan diturutinlah, Tugas Amil itu sangat mulia karena harus tepat sasaran. dengan kata lain diharapkan distribusi dana ZIS akan mengubah mustahiq menjadi muzakki, dan ibnu sabil dapat melanjutkan kembali perjalanannya, … bla ..bla … (ups lupa terusannya,)
tapi bismillah… saatnya para dhuafa lebih dimuliakan..dengan Program yang lebih VISIONER!!!
-
Archives
- November 2008 (15)
- October 2008 (6)
- September 2008 (9)
- August 2008 (5)
- July 2008 (26)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
