Amalan berbuah Mie Instant
Masih ingat dengan Pak Mirin, pilot Pustaka Motor Keliling Al-Azhar Peduli Ummat? Sabtu (1/11) kemarin dia menceritakan pengalamannya ketika berkeliling ke TPA-TPA dengan perpustakaan kelilingnya. Tugasnya sih bisa dilaksanakan dengan baik, namun yang menarik adalah kejadian ketika dia hendak pulang. “Pas mau pulang tiba-tiba saya dicegat sama pengurus TPA. Saya dikasih bungkusan yang isinya gula, teh, sama mie instant,” kisah Pak Mirin.
Rupanya, pengurus TPA itu merasa berutang budi dengan kedatangan Pak Mirin dan Pustaka Motor Keliling-nya. Mungkin juga dia menganggap program Pustaka Motor Keliling dari Al-Azhar Peduli Ummat adalah sebuah program yang mesti membayar. Padahal tidak. ”Saya sudah berusaha menolak, tapi tetep dipaksa-paksa. Ya sudah saya terima saja pemberiannya,” kata Pak Mirin sambil tertawa.
Pak Mirin dengan polosnya mengaku senang karena mendapatkan bingkisan yang di luar dugaan. Tetapi yang membuatnya terhanyut dan terus semangat menjalankan tugasnya sebagai Pilot Perpustakaan keliling adalah keantusiasan anak-anak ketika motor yang berisi buku dalam jumlah yang tidak banyak tiba di lokasi. ”saya jauh lebih senang karena bisa membantu anak-anak yang selama ini jauh dari bacaan-bacaan bermutu,” kata Pak Mirin.
Dan memang itulah tujuan awal program Pustaka Motor Keliling ini. ”Lebih dari sekedar perpustakaan keliling biasa, program ini merupakan suatu usaha pemerataan pendidikan, akses bacaan bermutu, ladang amal, juga penyambung tali silaturahim,” tegas Wahid Hamdani, Divisi Program dan Pendayagunaan LAZ Al-Azhar Peduli Ummat. Lewat program Pustaka Motor Keliling ini pula akan disalurkan buku-buku pelajaran bagi sekolah dan madrasah yang membutuhkan, juga training dan pelatihan lifeskill singkat bagi guru-guru madrasah.
Seperti sabda Rasulullah SAW dalam hadist Abu Kabsyah Al-Anmari ra: “Tiga golongan yang aku bersumpah pada mereka … (hingga sampai pada sabda beliau), ‘Akan aku paparkan sebuah hadist kepada kalian, maka hafalkanlah!’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya dunia itu hanyalah milik empat golongan. Pertama, seorang hamba yang dikaruniai oleh Allah harta dan ilmu. Dengan harta dan ilmunya tersebut, ia bertakwa kepadaRabb-nya dan menyambung tali silaturahim. Ia mengetahui bahwa Allah memiliki hak atas harta dan ilmunya tersebut. Inilah kedudukan yang paling utama. Kedua, seorang hamba yang dikaruniai Allah ilmu dan tidak dikaruniai harta, tetapi ia memiliki niat yang tulus. Ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal sebagaimana yang diperbuat si Fulan (orang yang pertama).’ Dengan niatnya tersebut, pahala kedua hamba ini sama. Ketiga, seorang hamba yang dikaruniai Allah harta, tetapi tidak dikaruniai ilmu. Ia menghambur-hamburkan hartanya tanpa ilmu dan tidak mau bertakwa kepada Rabb-nya dan tidak menyambung tali silaturahim. Demikian pula, ia tidak mengetahui bahwa Allah memiliki hak atas hartanya tersebut. Maka ia memiliki kedudukan yang paling rendah. Keempat, seorang hamba yang tidak dikaruniai Allah harta maupun ilmu. Lalu ia berkata, ‘Andai aku memiliki harta, niscaya aku akan menghambur-hamburkannya sebagaimana yang diperbuat si Fulan (orang yang ketiga)’. Dengan niat tersebut, maka keduanya memiliki dosa yang sama.”
Nah, tidakkah Anda tertarik ingin menjadi golongan yang pertama dan kedua? So, ayo bersama-sama berikhtiar mewujudkan generasi yang bermartabat dan berkebudayaan!!!
-
Archives
- November 2008 (15)
- October 2008 (6)
- September 2008 (9)
- August 2008 (5)
- July 2008 (26)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
