Asketisme dalam Islam
Sebuah hadits Rasulullah menyatakan: izhad fi al-dunyâ yuhibbuka Allâh, wazhad bimâ ‘inda alnâs yuhibbuka al-nâs (tinggalkankanlah dunia, maka kamu akan dicintai oleh Allah, dan tinggalkanlah apa saja yang menjadi milik
manusia, maka kamu akan dicintai mereka).
Hadits itu kemudian memunculkan istilah al-zuhd (zuhud, asketis) dalam dunia tasawuf dengan berbagai interpretasinya, ditambah lagi dengan ajaran-ajaran dalam Islam seperti al-shabr (kesabaran), al-tawakkul(tawakal), al-ridhâ (ridla) dan lain-lain. Setiap orang ingin bahagia dalam hidupnya. Kehidupan spiritual dipelajari dan dipraktikkan dalam rangka mencari kebahagian.
Di sisi lain, ada orang yang mencoba mencari kebahagiaan dengan cara menumpuk kekayaan, rumah indah, mobil mewah, segala keinginan terpenuhi. Ternyata kebahagiaan yang dicari tak kunjung ditemukan. Ada yang memperebutkan kekuasaan karena menganggap kekuasaan akan mengantarnya kepada bahagia. Ternyata
kebahagiaan itu tidak juga didapatkan.
“Kehidupan spritualyang mapan, mampu memenangi peperangan melawan nafsu dan menahan kehendak yang
berlebihan, itulah kebahagian,” kata Imam al-Ghazali.
Menang atas nafsu, kata Buya Hamka, adalah induk dari segala kemenangan. Karena orang yang berperang ke medan perang, bisa jadi hanya ingin mencari nama dan kemegahan duniawi. Pada lahirnya dia menjadi terkenal, tapi batinnya belum tentu. Kemenangan atas nafsu itulah kebahagiaan. (Hamka, Tasauf Modern, 2007: 25). Buya Hamka menjelaskan, kebahagian hanya dapat diraih dengan menjalankan agama secara benar. Agama membukakan pintu pikiran, menyuruh menggunakan akal dalam melakukan banyak hal.
Tidak Membenci Kemajuan
Ada yang berpandangan, kehidupan ruhani itu membenci dunia, mencari kebahagiaan dunia adalah sesat, tertipu oleh hawa nafsu. Maka dibuat cara-cara (thariqat) yang menghindar dari kehidupan ramai, berkhalwat, menyendiri, menyepi, hingga akhirnya tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, masa bodoh,
dungu, tidak teratur pakaian dan rumahnya, tersisih dari pergaulan. Buya Hamka menolak pemahaman seperti itu. Pemahaman itu tidak diajarkan oleh agama. Pemahaman itu akan membawa kemunduran. Pemahaman itu menyebabkan umat terpuruk, tertindas, dan kalah. Agama Islam, kata Buya, bukan musuh kemajuan. Islam justru menuntun kemajuan, menempuh tujuan untuk perdamaian segala bangsa. Allah tidak mengharamkan perhiasan (Q.S. al- A’raf/: 32). Islam mengajarkan agar kita memperoleh kebahagian dunia dan akhirat (Q.S. al-Baqarah/2: 201).
Kebaikan itu diturunkan Allah kepada orang-orang yang bertakwa baik di dunia mapun di akhirat (Q.S. al-Nahl/: 30). Islam mendorong manusia untuk memperoleh kemajuan dunia dengan banyak anjuran untuk membaca, menuntut ilmu, dan meneliti. Semua ilmu milik Allah untuk dijadikan sebagai sarana mencapai kebahagiaan. (Hamka, 2007: 114-115).
Spiritualisme dengan demikian mestinya mendorong manusia untuk bersemangat, tidak malas, guna memperoleh kembali fungsinya sebagai khalifah fi al-ardh (penguasa di muka bumi). Gaya hidup modern tidak jarang membawa manusia kepada kehidupan materialis hingga mengesampingkan nilai-nilai spiritual.
Ajaran asketis dalam tasawuf dari masa ke masa dimaksudkan untuk menarik kehidupan materialis itu untuk dibawa kepada nilai esoteris. Ajaran Islam senantiasa menjaga keseimbangan antara yang eksoteris dan yang esoteris. Oleh karenanya, tasawuf yang benar adalah yang menyeimbangkan antara kedua hal tersebut. Tasawuf yang benar adalah yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah.
Tasawuf harus menjunjung tinggi akhlak mulia, setia kepada syariah, mendekatkan diri kepada Allah. Juga harus membela kaum lemah dan tertindas, memberi manfaat bagi banyak manusia, dan mendorong semangat kemajuan. Dengan paham spiritual yang benar (tasawuf perennial) yang diridhai Allah SWT, pengikutnya akan meraih bahagia dunia dan akhirat. Insya Allah.
Dr.H. Shobahussurur, MA.
Ketua Takmir
Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta
No comments yet.
-
Archives
- November 2008 (15)
- October 2008 (6)
- September 2008 (9)
- August 2008 (5)
- July 2008 (26)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
