adefikri’s Weblog

run for social entrepreneur….

Menyikapi Ujian dengan Kesabaran

Oleh K.H. Abdullah Gymnastiar

Saudaraku, semoga Allah SWT yang menguasai tubuh kita memberikan karunia kesehatan lahir dan batin. Bersabar ketika diuji sakit dan bersyukur ketika dikarunia sehat. Karena adakalanya seseorang yang diuji sakit terhina karena ketidaksabarannya dan dikala sehat terhina karena ketidaksyukurannya.

Sabar adalah kegigihan kita untuk berada di jalan yang Allah sukai. Sabar ketika sedang diuji sakit, misalnya. Kesabaran seseorang akan tampak dari akhlaq dalam menyikapinya. Tidak jarang orang sakit bicaranya tidak karuan, penuh dengan keluh kesah, emosi. Sungguh sangatlah merugi bagi seseorang yang ketika diuji sakit disikapi dengan emosi. Tetap saja tidak akan menjadikannya sembuh. Lalu bagaimana sikap sabar kita dalam menghadapinya?

Ada beberapa sikap sabar yang bisa kita latih disaat kita diuji sakit. Pertama, sikap berprasangka baik kepada Allah. Diawali dengan menyadari sepenuhnya bahwa tubuh ini bukan milik kita melainkan milik Allah. Mau dijadikan sehat, sakit, itu hak Dia. Walaupun berobat ke dokter, tetap saja semuanya ada dalam genggaman-Nya. Dan kita patut menyadari bahwa setiap sakit yang kita derita pada hakekatnya sudah diukur Allah. Maka biasakanlah untuk mengucapkan, “Inna ilaihi raaji’uun.” Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah tempat kita kembali.

Sikap sadar tersebut akan berbuah keyakinan. Yakin bahwa Allah tidak akan menimpakan suatu penyakit pada kita bila tidak ada hikmahnya. Sehingga kita terpanggil untuk mengintospeksi diri. Mungkin saja sakit yang kita derita karena tidak terpenuhinya anggota tubuh kita akibat dari kelalaian. Seperti memforsir pikiran sehingga kepala menjadi pusing, mengabaikan hak perut sehingga perut menjadi sakit, tidak menyempatkan olahraga sehingga tubuh mudah lemah, dan kelalaian dalam memenuhi hak anggota tubuh lainnya.

Sikap sabar yang kedua yang harus dikuasai yaitu sikap menerima ketentuan Allah. Tidak berkeluh kesah. Keluh kesah adalah tanda-tanda dari ketidaksabaran. Biasanya orang sakit menderita itu bukan karena sakitnya melainkan karena dramatisasinya. Dan itu juga karena kurang bisa menerima ketentuan Allah dan terdorong keinginan untuk dikasihani sehingga orang-orang berempati kepadanya. Oleh karena itu, betapapun parahnya penyakit kita, cobalah untuk memproporsionalkannya.

Sikap ketiga, dengan merenungkan hikmah sakit. Selain sebagai sarana, mengintrospekasi diri juga sebagai pengugur dosa, seperti gugurnya daun dari pepohonan.

Saudaraku, sesungguhnya hidup sukses, mudah mendapatkan pertolongan Allah, dan kemampuan untuk dekat dengan-Nya, hanya dimiliki oleh orang-orang sabar. Untuk itu, jadikanlah sabar sebagai penolong kita seperti halnya shalat yang kita kerjakan. (*)

Copyright © CyberMQ.com

diambil dari : http://www.antara.co.id/mq/2007/3/27/menyikapi-ujian-dengan-kesabaran/

September 23, 2008 Posted by ade fikri | Manajemen Qalbu | | No Comments Yet

Menjadi Orang yang Berani

Oleh K.H. Abdullah Gymnastiar

Keberanian sering kita artikan sebagai seseorang yang berani bertempur, melawan situasi rawan dan penuh bahaya. Tetapi, sebetulnya hal ini hanya sebagian kecil dari sebuah keberanian.

Keberanian yang sesungguhnya adalah ketika seseorang berani melihat kekurangan dirinya. Orang yang berani inilah yang akan selamat, beruntung karena mempunyai semangat menggebu untuk memperbaiki dirinya.

Untuk bisa memperbaiki diri, seseorang harus tahu dahulu apa yang harus ia perbaiki. Dan, untuk mengetahui apa yang harus diperbaiki, kita harus berani melihat kekurangan diri.

Agar kita bisa melihat kekurangan diri, memang membutuhkan latihan serius. Salah satu caranya adalah berani menerima koreksi, masukkan dari orang lain untuk dirinya.

Orang seperti ini akan bergerak cepat, maju karena kian hari ia semakin meningkatkan diri. Dengan beragam koreksi yang ia terima menjadikan ia semakin gigih berupaya lebih baik, tidak seperti yang dikritikan kepadanya.

Sedang orang yang tidak suka jika dirinya dikritik orang lain, ia cendrung akan menghindar. Jika ada masalah yang sepertinya akan menyerang dirinya, ia akan sibuk mencari kambing hitam, melempar kesalahan kepada orang lain.

Ia sangat takut jika dirinya yang harus bertanggungjawab. Sekuat tenaga dia akan membela diri, bahwa bukan ia yang harus mempertanggungjawabkan semuanya.

Tentu, sikap takut disalahkan seperti ini sangat tidak baik.

Orang seperti ini adalah orang yang pengecut. Oleh karena itu, evaluasi kesibukan kita dalam membela diri.

Apakah kita harus membela diri atau kita membela diri karena takut ketahuan? Kita harus berani mengakui dan bertangungjawab jika memang kita yang salah. Tidak perlu membela diri, karena dengan membela diri justru akan memperjelas kesalahan kita.

Selain itu, kita juga harus berterima kasih kepada orang-orang yang telah memberikan masukan, saran kepada kita. Memang naluri manusia lebih menyukai pujian dan penghargaan.

Tetapi, sebenarnya kita tidak akan jatuh karena kritikan orang kepada kita. Justru koreksi adalah salahsatu jalan agar kita menjadi lebih baik dari saat ini, walau bisa jadi pada awalnya terasa pahit.

Kalau pun ternyata koreksian itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, kita tidak perlu sedih. Segera perbaiki diri dan buktikan bahwa kita tidak seperti yang dituduhkan orang-orang. (*)

Copyright © CyberMQ.com

diambil dari : http://www.antara.co.id/mq/2007/3/14/menjadi-orang-yang-berani/

September 23, 2008 Posted by ade fikri | Manajemen Qalbu | | No Comments Yet