Berjuang dan Optimis
Sejenak mari kita mengingat masa-masa kecil kita dahulu. Saat melihat bayi dalam kandungan tentu sulit rasanya membayangkan bagaimana bayi sebesar itu dapat keluar dari rahim seorang ibu. Namun kekuasaan Allah yang kemudian memberikan kekuatan pada seorang ibu, yang dengan segenap kemampuannya, mencoba memenangkan pertarungan sakit yang luar biasa demi melahirkan sang bayi.
Menginjak balita kita tertatih jatuh bangun untuk belajar berdiri, berjalan hingga berlari, entah berapa kali pun kita terjatuh, tapi tak jua membuat kita menyerah dan berhenti untuk belajar berlari. Dan samapai akhirnya kita bisa berdiri tegap, dan tidak hanya berlari tanpa arti tapi berlari mengejar cita-cita.
Bagaimana pun kondisi kita saat ini, siapa pun kita saat ini, kita mesti terus berjuang sebagaimana semangat saat kita masih kecil dahulu. Karena tidak ada yang tidak mungkin untuk kita kita jadikan cita dan kita gapai. Memang tidak ada yang tidak mudah dalam hidup ini. Namun siapa pun kita saat ini, kita masih dapat terus berjuang dengan segenap kekuatan dan doa untuk menggapai semua cita yang ingin diraih. Sebab tidak ada yang mudah, tapi tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini, asalkan Allah SWT meridhoi.
Ya dari proses perjuangan kita kecil saja kita bisa mengambil ibrah bahwa Allah akan senantiasa melihat perjuangan dan ikhtiar kita. Dan jika ternyata yang kita lakukan hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapakan, bisa jadi ada rahasia Allah yang lain yang siap menyambut kita.
Membangkitkan kesadaran dan bersikap optimis, adalah upaya-upaya relevan untuk mengangkat derajat bangsa ini dari keterpurukan. Bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan, demikian Allah Swt berfirman dalam Al-qur’an. Kita bisa belajar dari perjuangan yang dilakukan oleh Syekh Ahmad Yasin Allah yarham yang dengan keterbatasan penglihatan dan sambil berada di atas kursi roda mampu menjadi pimpinan HAMAS yang sangat disegani bahkan ditakuti para zionis. Ingat : ”Apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ”Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)
Kita juga berkaca pada kisah Soichiro Honda sang pendiri “kerajaan” Honda. Ia tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. Dan saat merintis bisnisnya terus diliputi kegagalan, sempat jatuh sakit, kehabisan uang, bahkan dikeluarkan dari kuliah.
Namun ia trus bermimpi dan bermimpi. Sampai akhirnya saat ini apabila anda amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga dijuluki “raja jalanan”.
Nah sekarang, apalagi kita yang hingga saat ini diberi berbagai kekuatan dan berbagai nikmat, mari kita terus menerus memelihara cita-cita kita yang akan bermanfaat untuk ummat serta membantu para dhuafa juga untuk mengejar cita-cita mereka. Dan semoga ikhtiar kita ini bisa mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik. Seraya berharap Allah berkenan memberikan rahmat kepada kepada kita untuk melakukan perubahan, berkenan memberi keberuntungan, berkenan memberi jalan-jalan untuk seseorang menjadi kaya dan bahagia, karena bila itu terjadi maka tidak ada seorangpun yang mampu menahannya. (Qs. Faathir: 2).
”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”(HR Abu Dawud 4/353).
(BELUM) GAGAL!!! Teruslah Bercita-cita…!!!
Subhanallah… dari sekian banyak kepala manusia, Allah menciptakan berjuta bahkan bertrilyun-triliyun keinginan. Ada yang berkeinginan sangat tinggi, jauh dengan yang dia mampu menjangkaunya. Adapula yang telah memiliki berbagai hal, namun malah tak pernah kesampaian untuk mendapatkan keinginan yang sangat sederhana. Disadari atau tidakm keinginanlah yang akan membuat kita bertahan dalam kepahitan dan kesulitan yang kita hadapai. Kita bisa belajar dari sahabat Bilal Radiyallahu anhu, seorang budak yang tetap bertahan menerima siksaan dari majikannya karena ada keinginan keimanan dan keyakinannya tidak luntur. Karena secara Jelas Bilal menyadari posisi dan kondisinya itu adalah kondisi terbaik yang diberikan Allah SWT.
Waduh saya gagal, gimana nih?? Gagal lalu terus mutung dan ga yakin akan keMahaSayangan dan KeMaha Kuasaan Allah …??? ini yang kadang Kita lakukan secara tidak sadar tatkala keinginan dan cita-cita kita belum berhasil di raih, sehingga kita merasa kita bukan siapa-siapa. Padahal siapapun tahu bahwa kita adalah sebaik-baiknya makhluk dan kita lahir kedunia setelah melalui kompetisi yang sangat berat. di mana kita bersaing dengan berjuta sprema hingga akhirnya kita yang terlahir di dunia ini kemudian kita menjadi dewasa seperti sekarang, semua kita lalui dengan kompetisi. Dan para pemenangnya adalah mereka yang berlari dengan penuh kekuatan serta tidak mau Kalah dengan berbagai kesulitan yang menghadang.
Kehidupan ini penuh titian, tidak semua manusia diuji Allah dengan nikmat dan kemudahan, karena sebagian manusia yang lain diujiNya dengan berbagai kesulitan. Ya, itulah salah satu cara Allah menyayangi kita, memberikan ujian berupa kesulitan dalam meniti jalan keridhoanNya. Sebagaimana firmanNya, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al- Mulk:2)
So, teruslah mengejar keinginan stinggi mungkin dengan tidak melupakan kebajikan dan melibatkan Allah SWT dalam setiap urusan kita…!!! Ingat bahwa karakteristik khas dari para sahabat Rasulullah SAW hádala selalu antusias dalam mengajar amal kebaikan tanpa pandang dia miskin ataupun kaya. Antusiasme akan kebajikan itulah yang menjadikan mereka mulia dihadapan Allah SWT bukan karena harta yang mereka miliki.
Ya Ramadhan bulan yang penuh berkah telah berlalu, Namun siapa pun kita saat ini, kita masih dapat terus berjuang dengan segenap kekuatan dan doa untuk menggapai semua cita yang ingin diraih. Sebab tidak ada yang mudah, tapi tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini, asalkan Allah SWT meridhoi.”Apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ”Jadilah!” maka terjadilah ia.” (Qs. Yasin: 82)
Jadi, apakah anda sudah berani bercita-cita?
Cita-Cita Itu Masih Ada, Teruslah Berbagi …
“… sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“
(QS Al-Anfal 8:53)
Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk membangkitkan niat, membulatkan kesungguhan dan optimisme untuk meraih kejayaan dunia dan akhirat. Sehingga tak heran Banyak orang yang menginginkan ibadahnya di bulan Ramadhan dapat merubah dirinya menjadi lebih baik.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu: Adalah Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (HR Ahmad dan An-Nasa’i)
Dan sungguh Ramadhan ini pula bisa menjadi suatu kesempatan luar biasa bagi kita untuk membantu para dhuafa. Karena yakinlah, sebagaimana kita mereka juga berhak mempunyai cita-cita. Jangan Biarkan para dhuafa tidak mau memiliki cita-cita, yang berujung pada pesimis menjalani hidup, “pasrah” dalam menjalani dan menerima hidup.
Karena Allah SWT Tidak semata-mata menciptakan manusia tanpa tujuan dan harapan. Ketika manusia mulai lahir dan menghirup hawa dunia, maka ketika itulah manusia harus siap menerima dan menunaikan amanah Allah di muka bumi ini. Dalam hidup ada mega proyek yang harus dicapai oleh manusia, teruslah mencoba untuk melangkah setahap demi setahap hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan dan keberkahan tujuan kita. Ia adalah cita-cita.
Jangan takut meyakinkan para dhuafa agar memiliki cita-cita, karena dengan cita-citalah jasad mereka akan tergerak untuk aktif dan enerjik, akal untuk kreatif dan inovatif, jiwa dan ruh untuk senantiasa dekat pada Rabbnya. Banyak kisah luarbiasa yang bisa terjadi karena adanya cita-cita, walo seseorang dalam keadaan sulit dan terhimpit, lemah dan tak berdaya.
Adalah Rasulullah SAW. Dan kaum muslimin yang bersamanya, tetap memiliki cita-cita besar dan agung meski beliau dalam keadaan lemah dan sulit. Dalam peristiwa perang Khandaq, pasukan muslimin hanya berjumlah 3000 sedangkan pasukan kafir berjumlah 10. 000. Namun, keadaan itu tidak membuat pasukan muslimin lemah dan putus asa, malah sebaliknya, kelemahan dan kekurangan itu dapat menjadi kekuatan dan memicu kaum muslimin untuk berfikir kreatif. dan endingnya ialah kaum muslimin memenangkan perang Khandaq. Ya Semua itu karena adanya cita-cita.
Cita-citalah yang telah membuat seorang Imam Ahmad bertahan terhadap cambukan penguasa tirani dalam mempertahankan keyakinannya bahwa al-Qur`an itu bukan makhluk, cita-cita pula yang telah membuat seorang ibu melimpahkan kasih sayang terhadap anaknya, senantiasa memenuhinya dengan doa dan cinta.
Dari Abu Hurairah ra; Rasululullah saw bersabda: orang yang dermawan dekat dengan Allah, manusia dan juga surga, serta jauh dari neraka. Orang yang kikir jauh dari Allah, manusia dan juga surga, serta dekat dengan neraka. Dan orang yang bodoh namun ia dermawan lebih baik di mata Allah daripada orang yang pintar namun kikir. Dan seburuk-seburuk penyakit adalah kikir. (HR at Tirmidzi)
Nah, sekarang apakah anda akan turut dalam barisan orang-orang yang terus mendukung dhaufa dalam mewujudkan cita-cita?? Harapan & cita-cita itu masih ada..teruslah berbagi. InsyaAllah barokah.
Do it
Donatur sekalian, Ayo terus bersedekah, jangan menunggu waktu. Kita sudah sama-sama tahu bahwa sedekah adalah pembukti iman. Manakala sedekah yang dilakukan seseorang itu ikhlas tanpa mengharap apapun selain keridhaan Allah Swt, maka sedekah yang dilakukannya menjadi saksi atas kebenaran imannya.
Abu Huroiroh RA mengisahkan, ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Sedekah yang bagaimanakah yang besar pahalanya?“ Rasulullah SAW menjawab, “Kamu bersedekah ketika sehat, ketika kamu sedang kikir, takut miskin, atau ketika kamu sedang berharap akan menjadi seorang yang kaya raya. Maka pada saat-saat seperti itu janganlah kamu lalai, bersedekahlah. Dan janganlah ditangguhkan, sehingga nyawamu telah sampai di tenggorokan, barulah kamu bagi-bagikan sedekahmu: ini untuk Fulan, ini untuk Fulan. Ingatlah sesungguhnya harta itu memang untuk si Fulan.“ (HR Bukhori).
Edisi lalu saya mengusulkan satu keluarga memberikan 2,5 Kg beras kepada satu keluarga dhuafa yang berada di sekelilingnya, maka untuk saat ini saya satu usulan (dapat inspirasi saat bersilaturahim ke Rumah pak mirin, salah satu relawan LAZ yang dihalaman rumahnya nampak induk ayam dan anaknya). Usulnya adalah bagaimana jika kita memberikan sepasang ayam jantan & betina kepada satu keluarga dhuafa tentunya yang ada di desa. Ya cukup satu pasang, baiknya sih yang sudah siap kawin.
Sederhana kan …?? sepasang ayam tersebut insyaAllah akan beranak pinak. Dan bila tidak ada kondisi force majeur semisal adanya kasus flu burung, Ayam tersebut secara turun temurun akan bermanfaat untuk dhuafa yang kita bantu. Kelak Ada telur atau daging yang bisa dikonsumsi oleh dhuafa yang kita bantu. Atau paling tidak bisa dijual untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya. InsyaAllah.
Walau belum bisa seperti Rasulullah SAW yang senantiasa menyedekahkan seperlima dari harta rampasan perang, Demikian pula sahabat Abu Bakar Ash Shidiq yang pernah menyedekahkan seluruh hartanya, atau Usman Bin Affan yang menyedekahkan separuh hartanya, atau Umar bin Khattab yang menyedekahkan sebagian besar harta beliau, kita bisa menyedekahkan sepasang Ayam, insyaAllah tidak lebih dari Rp. 100.000 tetapi akan terus bermanfaat.
Nah ternyata begitu banyak bentuk sedekah yang bisa kita berikan kepada orang lain. Abu Huroiroh RA mengabarkan, Muhammad Rasulullah SAW bersabda, “tidak seorangpun yang menyedekahkan hartanya yang halal di mana Allah menerimanya dengan kanan-Nya (dengan baik), walaupun sedekahnya itu hanya sebutir kurma. Maka kurma itu akan bertambah besar di tangan Allah Yang Maha Pengasih, sehingga menjadi lebih besar daripada gunung. Demikianlah Allah memelihara sedekahmu sebagaimana halnya kamu memelihara anak kambing dan anak unta (yang semakin lama semakin besar).“ (HR Muslim).
Donatur sekalian, Meniti kasih memang tak semudah kita berkata. Niat yang terpatri belum cukup untuk menggerakkan hati agar tangan segera memberi. Kaum dhuafa, adalah saudara kita. Mereka ada bukan untuk terpinggirkan. Rezeki yang Allah berikan kepada kita merupakan tanggung jawab yang akan dipertanyakan di mahkamah akhirat kelak, apakah hak saudara kita sudah kita sampaikan?.
Maka, bilamana dengan berzakat dan berinfaq bisa menumbuhkan cinta kepada sesama, mengapa melalui jalan tol yang sarat kemudahan agar dapat merajut kasih dengan Allah masih saja ditunda? Wallhu a’lam.
-
Archives
- November 2008 (15)
- October 2008 (6)
- September 2008 (9)
- August 2008 (5)
- July 2008 (26)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
