mengejar cita-cita
Pada mulanya adalah cita-cita. Lalu kehendak. Sesudah itu perjuangan menepati janji-janji dan mengejar mimpi-mimpi. Itulah kesetiaan akan pilihan. Itulah perjuangan. Dan, itulah inti kehidupan. Mimpi memang tak mengenal status dan derajat. Siapapun boleh bermimpi dan bercita-cita. Bermimpi menjadi seorang pejuang, seorang pembelajar, seorang pahlawan. Anak jalanan atau pengemis boleh memiliki mimpi dan cita-cita yang sama dengan orang-orang kaya. Siapa yang hendak melarang?
Namun sering kali kita mendengar pertanyaan-pertanyaan sumbang tentang hubungan antara kesuksesan dan nasib. Misalnya, apakah kesuksesan hanya dimiliki oleh mereka yang punya nasib baik sejak lahir? Benarkah nasib menjadi kaya atau miskin sudah ditetapkan sebelum lahir ke dunia, yaitu di Lauhul Mahfuz? Apakah takdir jadi miskin atau kaya tidak bisa diformat melalui usaha manusia?
Masalah ini bukanlah masalah yang hanya dirasakan sebagian kecil manusia saja. Sungguh, kita semua terlibat langsung dalam masalah ini. Makanya, kita dituntut untuk memahami sejauh mana hubungan antara usaha manusia dengan takdir yang akan terjadi. Sehingga tidak gampang memberikan vonis terhadap nasib buruk yang terjadi pada diri kita dengan mengatakan, bahwa semuanya sudah ditetapkan Allah sebelum kita dijadikan khalifah di bumi.
Padahal kunci terbesar untuk mengubah ‘nasib buruk’ kita terletak pada pikiran kita. DR. Muhammad Ghazali dalam bukunya Mengubah Takdir Mengubah Nasib juga menjelaskan, salah satu kunci hidup sukses dibentuk oleh pikiran kita sendiri. Buku ini sangat menggarisbawahi, bahwa tidak ada yang bisa mengubah hidup anda kecuali diri sendiri. Artinya, ketika kita berpikiran bahwa kita bisa sukses, maka kita akan sukses. Tergantung sekuat apa kita menanamkan mindset “saya bisa meraih mimpi dan cita-cita saya” itu.
Hidup adalah perjuangan, kata seorang penyair. Dan memang, selama nafas masih dikandung badan, haram hukumnya bagi kita untuk berhenti berjuang dan menyerah pada nasib. Karena orang yang menyerah ketika dia masih hidup, jauh lebih buruk dari orang yang telah mati. Kekayaan seseorang tidak dilihat dari jumlah hartanya, melainkan dari seberapa besar impian dan cita-citanya, serta sejauhmana dia berusaha untuk mewujudkannya.
Allah bersabda, ‘Aku adalah seperti yang hamba-Ku pikirkan’. Ketika kita menganggap Allah dekat, maka Allah akan dekat dengan kita. Ketika kita menganggap bahwa Allah Maha Adil atas rahmat yang diberikan kepada hamba-Nya, maka yakinlah Allah akan mewujudkan mimpi dan cita-cita kita itu.
Jadi janganlah berputus asa terhadap apa yang terjadi pada kita saat ini. Dalam Al-Quran disebutkan, “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”(QS. Yusuf: 87). Artinya, hanya orang-orang kafir yang menyangsikan rahmat Allah yang telah dijanjikan. Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad Shadiq, ulama hebat dari ahlul bait, bahkan menganggap berputus asa dari rahmat Allah adalah dosa besar kedua setelah menyekutukan-Nya.
Lihatlah Soekarno. Ketika dia dipenjara karena dianggap memberontak kepada Pemerintah Hindia Belanda, dia malah memanfaatkan waktunya di penjara untuk terus belajar dan membaca buku. Saat berangkat ke penjara, Soekarno membawa lima kopor besar yang isinya tak lain adalah buku-buku. Ketika ditanya, dengan tenang dia menjawab, “Saudaraku, jika Allah mengijinkan, insya Allah saya akan menjadi presiden pertama republik ini.”
Lihatlah Ibnu Jarir Atthabari, sang legenda di bidang di bidang tafsir. Ia tak pernah menganggap proses belajarnya selesai, hanya karena ia telah mencapai derajat ahli tafsir. Seperti dikisahkan oleh muridnya, Ahmad bin Kamil Asyajari, Atthabari hidup sangat sederhana. Bajunya banyak tambalan. Benangnya kasar. Ia menulis buku dari dhuhur sampai ashar, lalu keluar untuk sholat ashar. Sesudah itu duduk membacakan untuk jamaahnya hingga maghrib. Kemudian duduk mengajar hingga isya. Sesudah itu ia masuk ke dalam rumahnya. Ia membagi siang dan malamnya untuk kebaikan diri, agamanya, juga sesama manusia.
Tapi pada hari menjelang kematiannya, ia mendengar sebuah doa yang diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad. Maka Atthabari meminta diambilkan kertas dan tinta. Orang-orang berkata, ”Wahai Imam Atthabari, apakah dalam keadaan seperti ini engkau masih akan menulis?”. Maka ia menjawab, “Hendaklah seseorang tidaklah melewatkan kesempatan memetik ilmu, hingga ia mati.”
Tak lama kemudian, kurang dari satu jam setelah itu, ia menghembuskan nafas terakhirnya, pulang ke hadapan Allah SWT. Ia telah mengerti, dan ia teguh dengan pengertian itu, bahwa capaian-capaian diri seorang mukmin, secara pribadi atau bersama, tidak pernah mengenal kata cukup. Hingga kematian menghentikan capaian-capaian.
Allah berfirman: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa telah yang mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya). Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 23-24.)
Sebab, pada mulanya adalah cita-cita. Lalu kehendak. Sesudah itu perjuangan menepati janji-janji dan mengejar mimpi-mimpi. Itulah kesetiaan akan pilihan. Itulah perjuangan. Dan, itulah inti kehidupan.
merawat cinta
Bulan Ramadhan baru saja kita lewati. Bulan seribu bulan, bulan yang senantiasa ditunggu-tunggu kedatangannya selama 11 bulan lainnya. Bulan dimana setiap amalan akan dilipatgandakan nilainya oleh Alah SWT. Faktor inilah yang membuat kaum muslim kian cinta membuat amalan pada bulan Ramadhan. Lihat bagaimana masjid-masjid begitu makmur pada bulan Ramadhan ini. Orang-orang begitu mudah bersedekah, berlomba-lomba dalam kebaikan untuk meraih ridho Allah.
Sedekah di bulan Ramadhan misalnya, nilainya luar biasa. “Seutama-utama sedekah adalah pada bulan Ramadhan,” kata Rasulullah SAW (HR Tirmidzi dari Anas ra). Beliau sendiri memberi contoh. Ibnu Abbas ra meriwayatkan, “Rasulullah SAW adalah manusia paling dermawan, lebih-lebih pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajari Al Qur`an. Kedermawanan Rasulullah SAW saat itu lebih baik daripada hembusan angin sepoi-sepoi.’’ (HR Bukhari dan Muslim).
Namun memasuki akhir bulan Ramadhan dan awal-awal bulan Syawal serta bulan-bulan berikutnya, amalan-amalan itu seakan semakin surut seiring semakin ‘majunya’ barisan shaf sholat berjamaah. Masjid-masjid kian sepi, dan kaum dhuafa kembali menjadi kaum yang terlupakan. Padahal, Ramadhan bukan bulan yang tidak ada relevansinya dengan sebelas bulan lainnya, baik sebelum maupun sesudahnya. Keistimewaan Ramadhan tidak berarti menghilangkan arti penting kebajikan di bulan lain.
Ramadhan adalah riyadhoh tazkiyatun nafs, masa untuk mensucikan diri dari dosa-dosa sebelas bulan sebelumnya, sekaligus mensucikan komitmen pada sebelas bulan berikutnya. Dengan kata lain, amalan-amalan kebajikan yang kita lakukan di bulan Ramadhan –baik itu sholat, puasa, atau zakat– pun seharusnya berlanjut pada sebelas bulan berikutnya. Bahkan kalau bisa ditingkatkan. Karena saudara-saudara kita yang dhuafa pun tidak lantas menjadi orang kaya selepas kita menunaikan zakat fitrah.
Hal itu ditegaskan Ummul Mukminin Aisyah ra ketika beliau ditanya, apakah Rasulullah dulu mengkhususkan suatu bulan tertentu untuk beribadah. “Tidak,’’ jawab Aisyah, “beliau selalu berkesinambungan.” Dari situlah Imam Hasan Al Bashri menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian.” Kemudian beliau membaca firman Allah SWT dalam Surah Al-Hijr ayat 99: “Dan sembahlah Rabbmu sampai kematian mendatangimu” (Lathaa ‘ifu ‘l Ma ‘arif: 261).
Inti dari zakat adalah wujud ketaatan kepada Allah SWT. Ada dua aspek yang mendasarinya, yaitu aspek teologis dan aspek sosial. Aspek teologis berarti bahwa zakat bukan sekadar ritual ibadah semata, melainkan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Zakat tidak dipahami sebagai mengeluarkan beras 2,5 kg saja atau uang beberapa puluh ribu saja, namun mestinya dipahami sebagai kesediaan manusia dalam memberikan semua yang dimilikinya karena mengharap ridho Allah.
Yang kedua, aspek sosial. Melihat dari tujuan zakat fitrah itu sendiri, zakat adalah ibadah yang berdimensi sosial. Dengan kata lain, zakat adalah ibadah tidak hanya berkaitan dengan Allah (hablumminallah) namun juga berkaitan langsung dengan masyarakat (hablumminannaas). Bahkan, aspek yang berkaitan dengan masyarakat inilah yang menentukan nilainya di hadapan Allah. Zakat yang hanya didasari rasa ingin pamer atau riya’ tentunya akan berbeda nilainya dibandingkan zakat yang lillahita’ala.
Di bulan Ramadhan pula para mustahik merasakan cintanya kepada Allah bersemi, tapi kefakiran membuat jalan cinta mereka serasa berat. Bagaimana tidak, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja mereka cukup kesulitan. Apalagi menyisihkan uang untuk bersedekah. Bagi yang tidak didasari oleh iman, kefakiran tersebut akan membawa mereka kepada kekafiran.
Banyak sudah kisah kaum Muslim yang tergadai keimannya hanya karena tidak ada sepeser uang untuk sekadar sarapan. Tak terhitung banyaknya pula jumlah kaum musim yang berpindah keyakinan hanya karena terjerat oleh kemiskinan. Tapi banyak juga kisah luar biasa dari para dhuafa yang cintanya pada Allah tetap luar biasa meskipun dililit oleh berbagai kesulitan. Hal tersebut karena mereka telah memiliki iman yang kuat yang tidak bisa tergoyahkan oleh kilauan harta.
Simak saja kedermawanan Aisyah r.a yang lebih mementingkan saudara-saudaranya meski dirinya hidup dalam kekurangan. Suatu hari Aisyah ra. diberi dua buah karung penuh uang dirham, yang satu karungnya kurang lebih berisikan 100.000 dirham. Aisyah ra. meminta beberapa kantung, kemudian diisi dengan uang-uang dirham tadi, kemudian dia membagi-bagikannya dari pagi hingga sore hari, hingga tidak tersisa satu dirhampun.
Pada hari itu Aisyah ra. sendiri sedang berpuasa, dan tidak memiliki makanan untuk berbuka kecuali hanya sedikit. Aisyah ra. berkata kepada hamba sahayanya, “Bawalah sedikit makanan untuk berbuka”. Kemudian hamba sahayanya memberikan sepotong roti dan minyak zaitun. Aisyah ra. bertanya “Apakah ada makanan yang lebih baik dari ini?” Hamba sahayanya menjawab”Seandainya engkau menyisakan satu dirham saja, tentu cukup untuk membeli sekerat daging”, Aisyah ra. berkata, kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, mengapa tidak berkata sebelumnya, tentu aku dapat memberimu.
Banyak hadiah berdatangan kepada Aisyah ra. diantaranya dari Muawiyah ra., dari Abdullah bin Umar ra., Zubair ra. dan lainnya. Karena pada masa itu, kaum muslimin banyak memperoleh kemenangan, sehingga di rumah rumah sahabat berceceran mata uang bagaikan biji-bijian. Meskipun demikian keadaan Aisyah ra. tetap sederhana.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya). Baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imron: 133-134)
Di bulan Syawal ini, marilah kita berupaya untuk tetap istiqomah dalam melakukan amalan-amalan bulan Ramadhan, khususnya sedekah. Tak mengapa kuantitas sedekah menurun dibanding Ramadhan. Yang penting istiqomah. Kata Nabi SAW: “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinyu walau sedikit.” (Muttafaq ‘Alaih). Idul Fitri adalah hari kemenangan, namun kemenangan itu hanyalah milikmereka yang amal ibadahnya senantiasa diusahakan agar lebh baik dari hari kemarin.
Jangan berhenti berbagi dengan saudara-saudara kita yang masih berstatus dhuafa. Jika keimanan mereka senantiasa digoda oleh harta, maka sudah sewajibnya jika kita mengulurkan tangan, membantu merawat cinta mereka, agar Allah Yang Maha Kuasa tetap bertahta dalam sanubari mereka. Waallahua’lam bishshawaab.
Melamar Asa kehidupan …
Siapa yang tak punya mimpi. Semua orang pasti punya mimpi, siapapun dia, apapun statusnya. Bahkan sejak kecil pun kita sudah diajari untuk mempunyai mimpi. Masih teringat pertanyaan orangtua atau guru kita: besok kalau sudah besar mau jadi apa?
Sebagian dari kita mungkin dahulu menjawab : jadi dokter, jadi pilot, jadi tentara, jadi presiden, atau profesi-profesi keren lainnya. Dan tidak hanya soal pekerjaan, kita semua memiliki impian-impian besar lainnya. Semakin banyak impian, semakin besar keinginan kita untuk meraihnya.
Pertanyaan yang sederhana, tapi sungguh memiliki arti yang dalam. Karena dari jawaban itulah kita kemudian menentukan arah langkah kehidupan kita ke depan. Kuat lemahnya dan semangat tidaknya seseorang menjalani hidup tergantung dari besar kecilnya impian yang dia miliki. Semuanya demi meraih mimpi-mimpi.
Namun mari kita tengok kembali: apakah kita telah meraih impian-impian kita itu? Apakah kita telah berusaha keras mewujudkan impian-impian kita?
Anda boleh percaya boleh tidak, namun hanya sedikit orang yang berusaha mewujudkan impiannya sejak kecil, dan lebih sedikit lagi orang yang berhasil mewujudkannya. Bukan karena mereka malas atau apa, namun karena mereka kurang meyakini bahwa sebenarnya kita bisa menjadi apapun yang kita impikan.
Kebanyakan orang seiring bertambahnya usia menjadi semakin realistis dalam menjalani hidup. Ah, saya tidak mungkin menjadi seperti ini. Ah, itu cuma impian masa kecil saja, nggak mungkin bisa diwujudkan. Dan semakin kita bersikap pesimistis, maka impian kita akan semakin jauh meninggalkan kita.
Padahal setiap impian selalu diiringi dengan harapan. Setiap orang bisa menjadi apapun apapun yang diinginkannya, bisa meraih apapun yang diinginkannya. Dan ketika kita tidak berusaha mewujudkannya hanya karena pesimis atau bahkan malas, rasanya itu akan menyinggung hati mereka yang memiliki mimpi, berusaha mewujudkannya, namun gagal karena keterbatasan-keterbatasan mereka.
Di sekeliling kita masih banyak dhuafa yang memiliki cita-cita dan asa. Para guru yang bermimpi menjadi guru yang bisa mencetak generasi unggul, para dai yang bermimpi tentang tegaknya ayat-ayat Allah dalam sanubari anak didiknya, juga anak-anak sekolah yang bermimpi menjadi pilot atau dokter, seperti kita dulu. Tapi banyak dari mereka yang tidak bisa mewujudkan mimpinya karena memiliki keterbatasan dalam sarana prasarana, modal, ilmu pengetahuan, sampai buku-buku pelajaran. Kita yang dikaruniai berbagai macam rizki oleh Allah seharusnya merasa malu apabila kita justru pesimis dengan impian kita.
Impian adalah jalan kehidupan kita. Dan harapan atau asa adalah bagaikan pasangan hidup kita. Untuk menemukan dan menjalani hidup yang dirahmati Allah kita membutuhkan pasangan hidup. Sudah selayaknya jika kita berkewajiban untuk membantu orang lain untuk melamar ‘pasangan hidup’-nya. Karena hidup tanpa asa bukanlah kehidupan.
Ramadhan adalah bulan ibadah, bulan dimana nilai ibadah diberi berkah pahala yang berlipat. Di bulan Ramadhan juga terdapat Lailatul Qadr, malam yang nilainya lebih baik dari ibadah 1000 bulan. Apalagi sedekah di bulan Ramadhan merupakan suatu keutamaan. Allah yang bersifat Maha Pemurah, di bulan Ramadhan ini kedermawanan-Nya seolah berlipat ganda.
Demikian pula Rasulullah SAW. Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas raldhiallahu ‘anhuma, ia berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus”. Atau dalam hadist lain, menurut riwayat Al-Baihaqi, dari Aisyah radhiallahu ‘anha : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta”.
Akhirnya, di bulan Ramadhan ini maukah kita melamar asa untuk para pejuang tersebut? Dengan uluran tangan Anda, mereka bisa tetap optimis dalam mengejar dan mewujudkan cita-cita mereka. Dengan bantuan Anda, mereka selangkah lebih dekat dengan kehidupan yang lebih baik. Dengan melamar asa mereka, berarti Anda insya Allah telah membantu ‘menikahkan’ mereka dengan kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang dirahmati Allah SWT. Wallahua’lam. (dp/maw)
melangkah pasti dengan amalan
Saat ini bisa dibilang hampir tak ada hal yang pasti dalam kehidupan kita. Pertumbuhan ekonomi naik turun, kerusuhan, bencana alam yang siap melanda kapan saja, dan lain-lain. Ketidakpastian seakan-akan menjadi begitu akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Sampai-sampai ungkapan “hidup seperti air mengalir” seolah menjadi pegangan hidup sebagian dari masyarakat kita.
Padahal pada masa lalu bisa dibilang hampir semua hal dapat diperhitungkan. Orang jaman dulu memiliki ilmu niteni (memperhatikan, menghapalkan –red) yang bisa digunakan untuk memprediksikan suatu hal. Meski kadang-kadang tidak masuk akal dan cenderung mengarah kepada bid’ah, ilmu niteni ini masih memiliki sisi ilmiah.
Ilmu niteni ini hadir dari pengamatan secara mendalam dan terus-menerus terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar manusia. Prediksi akan datangnya hujan misalnya, berawal dari terhadap datangnya awan gelap disertai petir. Pengamatan berulangkali ini menimbulkan konklusi dalam benak manusia bahwa tiap cuaca mendung pasti akan ada hujan. Namun hal-hal tak masuk akal yang menjadi mitos, seringkali muncul hanya karena kebetulan. Misalnya mitos bahwa pernikahan antara anak ketiga dengan anak pertama (lusan) akan mengakibatkan salah satu orangtua meninggal, bisa jadi muncul karena terjadi beberapa kejadian demikian.
Namun akibat ulah manusia juga, kita jadi tidak bisa melihat tanda-tanda yang diberikan oleh alam. Kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Akibatnya, para petani tidak bisa menentukan awal masa tanam. Petani sering mengalami gagal panen karena cuaca yang tidak menentu serta berubah-ubah secara ekstrem. Buntutnya, kekurangan stok bahan pangan terjadi di berbagai tempat.
Jika hal-hal yang bisa diprediksi secara ilmiah saja sudah semakin sulit diperhitungkan, bagaimana dengan hal-hal yang di luar kemampuan kita? Hal-hal yang di luar kemampuan kita memang Allah yang mengatur, seperti kematian, jodoh, rizki, bahkan tempat tinggal kita di akhirat kelak: apakah surga atau neraka. Namun hal-hal yang di luar kemampuan kita ini bisa kita pastikan asalkan kita niteni satu syarat utama: kerjakan apa yang diperintahkan Allah dan jauhi apa yang dilarang-Nya. Allah selalu memperhatikan hamba-Nya yang beriman kepada-Nya.
Tentu saja hubungan baik dengan Allah (hablumminallah) harus diimbangi pula dengan hubungan sesama manusia yang baik pula (hablumminannas). Jika kualitas ibadah kita menjamin hubungan yang mesra dengan Allah, kualitas kita dalam bidang sosial akan menjamin kedekatan hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Untuk itu, kita harus mulai untuk lebih sering melakukan hal-hal positif kepada orang lain, sama seperti kita melakukan ibadah wajib sehari-hari.
Misalnya saja dengan memberikan infak secara rutin kepada orang yang membutuhkan, bisa harian, mingguan atau bulanan. Atau menyisihkan sebagian dari gaji bulanan untuk disumbangkan ke panti-panti asuhan. Atau dengan berkomitmen untuk lebih rutin mengeluarkan zakat dari penghasilan kita. Dan masih banyak lagi cara lainnya.
Jangan salah, orang kaya bukanlah orang yang berpenghasilan fantastis setiap bulannya. Orang kaya justru adalah orang yang penghasilannya tidak seberapa, namun bisa mengalokasikannya sesuai kebutuhan, bahkan mampu menyisihkannya untuk amal. Meski hanya sedikit, apabila infak dilakukan secara rutin maka akan menimbulkan dampak yang luar biasa. Bayangkan betapa besar manfaat yang bisa ditimbulkan oleh infak Anda. Betapa banyak orang yang terbantu dengan zakat Anda. Hubungan Anda dengan sesama juga akan semakin mesra. Dan lebih lagi, bayangkan bahwa amalan Anda akan menyelamatkan Anda pada yaumil akhir nanti.
Begitu banyak manfaat yang timbul dari satu hal kecil. Jadi tunggu apa lagi? Al-Azhar Peduli Ummat siap membantu Anda menyalurkan zakat, infak dan shodaqoh Anda. (dp/adv)
-
Archives
- November 2008 (15)
- October 2008 (6)
- September 2008 (9)
- August 2008 (5)
- July 2008 (26)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
