sedekah sepanjang hayat
Tujuan seorang mukmin dalam berpuasa adalah mendapatkan derajat taqwa, seperti yang disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah/2: 183. Derajat taqwa adalah derajat yang tertinggi, kualitas terbaik yang dapat diraih oleh setiap muslim.
Derajat itu hanya dapat diraih ketika seseorang dapat melaksanakan ibadah secara berkelanjutan, terus menerus, dan konsisten. Dalam bahasa al-Quran mampu berlaku istiqâmah
dalam setiap tindakan setelah keimanan ditanamkan di dalam jiwa.
Istiqamah menumbuhkan ketegaran, keberanian, dan keteguhan. Kepada orang-orang yang selalu istiqamah Allah akan memberikan ketegaran hidup, tiada rasa takut, dan balasan surga.
Disebutkan di dalam al-Quran: “Sesungguhnyaorang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah
Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”. Q.S. al-Ahqâf/46: 13. Juga: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqâmah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlan kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Q.S. Fushshilat/41: 30.
Di bulan Ramadhan kita berpuasa, mengendalikan mulut dan syahwat kita dari melakukan aktifitasnya berupa makan, minum, atau berhubungan seks dalam beberapa jam setiap hari. Hal itu dimaksudkan agar nafsu mulut dan nafsu syahwat menjadi terlatih dalam melaksanakan kegiatannya dan tidak menurutkan segala kemauan hawa nafsu.
Mulut yang mungil, lunak, dan tidak bertulang itu bila menurutkan hawa nafsunya akan sanggup memakan dan meminum apa saja; yang lunak atau yang keras, yang kecil atau yang besar, yang baik atau yang jelek, yang halal atau haram. Bila mampu berpuasa mengendalikan keinginan hawa nafsu mulut dan syahwat di bulan Ramadhan, tentu pengendalian itu tidak dibatasi dengan berakhirnya Ramadhan. Seharusnya pengendalian itu tetap dilakukan di luar Ramadhan.
Yang harus dikendalikan pun bukan sekadar nafsu mulut dan syahwat, tapi seluruh nafsu yang ada dalam diri kita: nafsu tangan untuk mengambil apa saja, nafsu kaki untuk melangkah ke mana saja dan menendang apa saja, nafsu mata untuk melihat apa saja, nafsu telinga, hidung, dan semua anggota tubuh.
Semua nafsu yang secara kodrati melekat pada diri manusia itu harus juga dipuasakan agar menjadi nafsu yang terkendali dan tenang. Al-Quran menyebut nafsu tenang terkendali itu sebagai al-nafs al-muthmainnah (nafsu yang tenang terkendali). Itulah nafsu pribadi muttaqin karena sukses dalam melaksanakan puasa.
Nafsu itulah yang akan dimasukkan dalam kelompok hamba Allah yang dimuliakan dengan pahala surga penuh kenikmatan. “Wahai nafsu yang tenang terkendali, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh rela dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Q.S. al-Fajr: 27- 30). Kita harus mampu, walaupun Ramadhan telah berakhir, untuk selalu istiqamah mengendalikan hawa nafsu.
Demikian pula halnya dengan berbagai macam amal shaleh yang selalu kita lakukan sepanjang Ramadhan, mestinya tidak berhenti dengan berakhirnya Ramadhan. Sedekah yang kita keluarkan mestinya tidak berakhir ketika Ramadhan berlalu. Selesai Ramadhan tidak berarti selesai berbuat baik. Shalat tidak boleh berhenti, zikir tidak boleh berhenti, menolong orang, menyantuni anak yatim, memberi makan fakir miskin, menyekolahkan anak-anak miskin, mendirikan sekolah yang rusak, membangun masjid, pesantren dan lain sebagainya, tidak boleh berhenti karena Ramadhan telah berakhir.
Pencapaian taqwa justru diwujudkan dalam amalan nyata pasca Ramadhan dengan kesediaan beramal saleh kapan saja dan dalam kondisi suka atau duka (fi al-sarrâ’ wa al-dharrâ’, Q.S. Ali Imrân/3:134).
Demikian juga kualitas amal justru dinilai setelah Ramadhan. Bila lebih baik amalnya, berarti ia lulus trainning Ramadhan. Tapi bila setelah Ramadhan tidak ada perubahan, apalagi amal salihnya berkurang, ia gagal. Mari tetap bersedekah sampai akhir hanyat nanti.
Asketisme dalam Islam
Sebuah hadits Rasulullah menyatakan: izhad fi al-dunyâ yuhibbuka Allâh, wazhad bimâ ‘inda alnâs yuhibbuka al-nâs (tinggalkankanlah dunia, maka kamu akan dicintai oleh Allah, dan tinggalkanlah apa saja yang menjadi milik
manusia, maka kamu akan dicintai mereka).
Hadits itu kemudian memunculkan istilah al-zuhd (zuhud, asketis) dalam dunia tasawuf dengan berbagai interpretasinya, ditambah lagi dengan ajaran-ajaran dalam Islam seperti al-shabr (kesabaran), al-tawakkul(tawakal), al-ridhâ (ridla) dan lain-lain. Setiap orang ingin bahagia dalam hidupnya. Kehidupan spiritual dipelajari dan dipraktikkan dalam rangka mencari kebahagian.
Di sisi lain, ada orang yang mencoba mencari kebahagiaan dengan cara menumpuk kekayaan, rumah indah, mobil mewah, segala keinginan terpenuhi. Ternyata kebahagiaan yang dicari tak kunjung ditemukan. Ada yang memperebutkan kekuasaan karena menganggap kekuasaan akan mengantarnya kepada bahagia. Ternyata
kebahagiaan itu tidak juga didapatkan.
“Kehidupan spritualyang mapan, mampu memenangi peperangan melawan nafsu dan menahan kehendak yang
berlebihan, itulah kebahagian,” kata Imam al-Ghazali.
Menang atas nafsu, kata Buya Hamka, adalah induk dari segala kemenangan. Karena orang yang berperang ke medan perang, bisa jadi hanya ingin mencari nama dan kemegahan duniawi. Pada lahirnya dia menjadi terkenal, tapi batinnya belum tentu. Kemenangan atas nafsu itulah kebahagiaan. (Hamka, Tasauf Modern, 2007: 25). Buya Hamka menjelaskan, kebahagian hanya dapat diraih dengan menjalankan agama secara benar. Agama membukakan pintu pikiran, menyuruh menggunakan akal dalam melakukan banyak hal.
Tidak Membenci Kemajuan
Ada yang berpandangan, kehidupan ruhani itu membenci dunia, mencari kebahagiaan dunia adalah sesat, tertipu oleh hawa nafsu. Maka dibuat cara-cara (thariqat) yang menghindar dari kehidupan ramai, berkhalwat, menyendiri, menyepi, hingga akhirnya tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, masa bodoh,
dungu, tidak teratur pakaian dan rumahnya, tersisih dari pergaulan. Buya Hamka menolak pemahaman seperti itu. Pemahaman itu tidak diajarkan oleh agama. Pemahaman itu akan membawa kemunduran. Pemahaman itu menyebabkan umat terpuruk, tertindas, dan kalah. Agama Islam, kata Buya, bukan musuh kemajuan. Islam justru menuntun kemajuan, menempuh tujuan untuk perdamaian segala bangsa. Allah tidak mengharamkan perhiasan (Q.S. al- A’raf/: 32). Islam mengajarkan agar kita memperoleh kebahagian dunia dan akhirat (Q.S. al-Baqarah/2: 201).
Kebaikan itu diturunkan Allah kepada orang-orang yang bertakwa baik di dunia mapun di akhirat (Q.S. al-Nahl/: 30). Islam mendorong manusia untuk memperoleh kemajuan dunia dengan banyak anjuran untuk membaca, menuntut ilmu, dan meneliti. Semua ilmu milik Allah untuk dijadikan sebagai sarana mencapai kebahagiaan. (Hamka, 2007: 114-115).
Spiritualisme dengan demikian mestinya mendorong manusia untuk bersemangat, tidak malas, guna memperoleh kembali fungsinya sebagai khalifah fi al-ardh (penguasa di muka bumi). Gaya hidup modern tidak jarang membawa manusia kepada kehidupan materialis hingga mengesampingkan nilai-nilai spiritual.
Ajaran asketis dalam tasawuf dari masa ke masa dimaksudkan untuk menarik kehidupan materialis itu untuk dibawa kepada nilai esoteris. Ajaran Islam senantiasa menjaga keseimbangan antara yang eksoteris dan yang esoteris. Oleh karenanya, tasawuf yang benar adalah yang menyeimbangkan antara kedua hal tersebut. Tasawuf yang benar adalah yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah.
Tasawuf harus menjunjung tinggi akhlak mulia, setia kepada syariah, mendekatkan diri kepada Allah. Juga harus membela kaum lemah dan tertindas, memberi manfaat bagi banyak manusia, dan mendorong semangat kemajuan. Dengan paham spiritual yang benar (tasawuf perennial) yang diridhai Allah SWT, pengikutnya akan meraih bahagia dunia dan akhirat. Insya Allah.
Dr.H. Shobahussurur, MA.
Ketua Takmir
Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta
-
Archives
- November 2008 (15)
- October 2008 (6)
- September 2008 (9)
- August 2008 (5)
- July 2008 (26)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
