Kado untuk anak yatim
Jelang Muharram 1430 H, sudahkah anda menyiapkan kado untuk anak-anak yatim disekitar anda..??
kado, yang akan membuat mereka bahagia ..
kado yang tidak hanya membuat mereka merasa sangat bergantung uluran tangan para dermawan
ya Kado yang hanya akan membuat mereka mandiri!!!
mengibarkan panji-panji Islami..
InsyaAllah …
Qurban By Request
KEMANA HEWAN QURBAN ANDA TAHUN INI AKAN DISALURKAN …???
menyambut Iedul Adha, LAZ Al-Azhar Peduli Ummat bersedia membantu menyalurkan hewan Qurban anda. tinggal tunjuk daerahnya (yang ada mitra Al-Azhar Peduli Umamt – red), hewan Qurban anda akan dinikmati oleh warga setempat.
untuk distribusi area Solo dan sekitarnya : bisa menghubungi 0271- 626997
sedekah sepanjang hayat
Tujuan seorang mukmin dalam berpuasa adalah mendapatkan derajat taqwa, seperti yang disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah/2: 183. Derajat taqwa adalah derajat yang tertinggi, kualitas terbaik yang dapat diraih oleh setiap muslim.
Derajat itu hanya dapat diraih ketika seseorang dapat melaksanakan ibadah secara berkelanjutan, terus menerus, dan konsisten. Dalam bahasa al-Quran mampu berlaku istiqâmah
dalam setiap tindakan setelah keimanan ditanamkan di dalam jiwa.
Istiqamah menumbuhkan ketegaran, keberanian, dan keteguhan. Kepada orang-orang yang selalu istiqamah Allah akan memberikan ketegaran hidup, tiada rasa takut, dan balasan surga.
Disebutkan di dalam al-Quran: “Sesungguhnyaorang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah
Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”. Q.S. al-Ahqâf/46: 13. Juga: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqâmah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlan kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Q.S. Fushshilat/41: 30.
Di bulan Ramadhan kita berpuasa, mengendalikan mulut dan syahwat kita dari melakukan aktifitasnya berupa makan, minum, atau berhubungan seks dalam beberapa jam setiap hari. Hal itu dimaksudkan agar nafsu mulut dan nafsu syahwat menjadi terlatih dalam melaksanakan kegiatannya dan tidak menurutkan segala kemauan hawa nafsu.
Mulut yang mungil, lunak, dan tidak bertulang itu bila menurutkan hawa nafsunya akan sanggup memakan dan meminum apa saja; yang lunak atau yang keras, yang kecil atau yang besar, yang baik atau yang jelek, yang halal atau haram. Bila mampu berpuasa mengendalikan keinginan hawa nafsu mulut dan syahwat di bulan Ramadhan, tentu pengendalian itu tidak dibatasi dengan berakhirnya Ramadhan. Seharusnya pengendalian itu tetap dilakukan di luar Ramadhan.
Yang harus dikendalikan pun bukan sekadar nafsu mulut dan syahwat, tapi seluruh nafsu yang ada dalam diri kita: nafsu tangan untuk mengambil apa saja, nafsu kaki untuk melangkah ke mana saja dan menendang apa saja, nafsu mata untuk melihat apa saja, nafsu telinga, hidung, dan semua anggota tubuh.
Semua nafsu yang secara kodrati melekat pada diri manusia itu harus juga dipuasakan agar menjadi nafsu yang terkendali dan tenang. Al-Quran menyebut nafsu tenang terkendali itu sebagai al-nafs al-muthmainnah (nafsu yang tenang terkendali). Itulah nafsu pribadi muttaqin karena sukses dalam melaksanakan puasa.
Nafsu itulah yang akan dimasukkan dalam kelompok hamba Allah yang dimuliakan dengan pahala surga penuh kenikmatan. “Wahai nafsu yang tenang terkendali, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh rela dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Q.S. al-Fajr: 27- 30). Kita harus mampu, walaupun Ramadhan telah berakhir, untuk selalu istiqamah mengendalikan hawa nafsu.
Demikian pula halnya dengan berbagai macam amal shaleh yang selalu kita lakukan sepanjang Ramadhan, mestinya tidak berhenti dengan berakhirnya Ramadhan. Sedekah yang kita keluarkan mestinya tidak berakhir ketika Ramadhan berlalu. Selesai Ramadhan tidak berarti selesai berbuat baik. Shalat tidak boleh berhenti, zikir tidak boleh berhenti, menolong orang, menyantuni anak yatim, memberi makan fakir miskin, menyekolahkan anak-anak miskin, mendirikan sekolah yang rusak, membangun masjid, pesantren dan lain sebagainya, tidak boleh berhenti karena Ramadhan telah berakhir.
Pencapaian taqwa justru diwujudkan dalam amalan nyata pasca Ramadhan dengan kesediaan beramal saleh kapan saja dan dalam kondisi suka atau duka (fi al-sarrâ’ wa al-dharrâ’, Q.S. Ali Imrân/3:134).
Demikian juga kualitas amal justru dinilai setelah Ramadhan. Bila lebih baik amalnya, berarti ia lulus trainning Ramadhan. Tapi bila setelah Ramadhan tidak ada perubahan, apalagi amal salihnya berkurang, ia gagal. Mari tetap bersedekah sampai akhir hanyat nanti.
ayah …
kangen rumah …
kangen masakan ibu…
kangen makan ubi bakar, sayur sop dan ikan bakar bareng papa…
kangen kumpul bareng ma keluarga besar Bani Karim …
karena sekarang dirumah kontrakan cuman sendirian…
duh jadi kepikiran kangen yang ini :
kangen jadi Ayah … ^_^
ini dia foto calon seorang ayah …
semoga lirik lagu “titip rindu buat ayah”nya Ebiet G ade ini, bisa menyampaikan rindu dan baktiku buat papa di Garut… doakan ananda bisa terus berhidmat untuk ummat
dimatamu masih tersimpan selaksa peristiwa
benturan dan hempasan terpahat dikeningmu
kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah
meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan…
engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk…
namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia
ayah…. Dalam hening sepi kurindu
untuk…menuai padi milik kita
tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
anakmu sekarang tinggal hanya menanggung beban
(Ebiet G. Ade)
-
Archives
- November 2008 (15)
- October 2008 (6)
- September 2008 (9)
- August 2008 (5)
- July 2008 (26)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS




